Jurnal Bakteri : Skrining Bakteri Kitinolitik Antagonis Terhadap Pertumbuhan Jamur Akar Putih (Rigidoporus lignosus) dari Rizosfir Tanaman Karet Type file : Docx / Pdf
Code file : [ har09mdr8 ]

Skrining Bakteri Kitinolitik Antagonis Terhadap Pertumbuhan Jamur Akar Putih (Rigidoporus lignosus) dari Rizosfir Tanaman Karet

Intisari: Skrining bakteri kitinolitik dari rizosfir tanaman karet dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh isolat bakteri kitinolitik yang antagonis terhadap pertumbuhan jamur akar putih (Rigidoporus lignosus). Bakteri diisolasi  dari Perkebunan Karet Sembawa  Kab.  Banyuasin, dan skrining dilakukan dengan menggunakan media agar kitin dan  uji antagonis terhadap jamur patogen dilakukan dengan menggunakan metode Chernin et al., (1995). Hasil penelitian didapatkan dua isolat bakteri kitinolitik yang antagonis terhadap pertumbuhan jamur akar putih (Rigidoporus lignosus). Identifikasi kedua isolat antagonis jamur akar putih ini tergolong kedalam genus Bacillus yaitu Bacillus sp. dan Bacillus apiarius

Kata kunci: bakteri kitinolitik, antagonis, Rigidoporus lignosus

Abstract: The screening of chitinolytic bacteria from rhizosphere in rubber plant was done to get isolate chitinolytic bacteria that antagonist to white root fungus (Rigidoporus lignosus). Bacteria were isolated from rubber plantation Sembawa Banyuasin Regency and screening was done by chitin solid media and antagonist test to pathogen fungus was done by using Chernin et al., (1995) method.  The results of this research were found two  isolates chitinolytic bacteri  that antagonist to growing white root fungus (Rigidoporus lignosus). Identification both isolate antagonist to white root fungus is a member of genus Bacillus (Bacillus sp. and Bacillus apiarius)

Keywords: bhitinolytic bacteria, antagonist, Rigidoporus lignosus

1 PENDAHULUAN

Karet alam merupakan komoditas ekspor yang sangat penting sebagai sumber devisa Negara,
dan merupakan sumber penghidupan sebagian pen- duduk Indonesia. Secara ekologi tanaman karet men- dukung pelestarian lingkungan hidup, sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. Di Sumatera Se- latan karet merupakan komoditas ekspor utama, luas perkebunan karet mencapai 900.000 hektar, luas ini merupakan lahan karet terluas di Indonesia [1].


Pengelolaan perkebunan karet sering mengalami kendala, terutama masalah penyakit. Penyakit tana- man karet telah menyebabkan kerugian ekonomi, tidak hanya disebabkan kehilangan produksi akibat kerusakan tanaman tetapi juga mahalnya biaya yang diperlukan dalam pengendaliannya. Diperkirakan ke- hilangan produksi setiap tahunnya akibat kerusakan oleh penyakit karet mencapai 5-15 %. Penyakit tana- man karet yang umum ditemukan pada perkebunan diantaranya adalah jamur akar putih. Penyakit jamur akar putih disebabkan oleh jamur Rigidoporus ligno- sus. Serangan jamur akar putih telah menyebabkan kerusakan pada akar tanaman. Berdasarkan laporan semester pertama pada tahun 2006 serangan jamur akar putih di Sumatera Selatan telah mencapai 20.000 hektar dengan perkiraan kerugian hasil sebesar Rp. 7,82 milyar [2]


Serangan jamur akar putih akan memperlihatkan gejala pada daun terlihat pucat kuning dan tepi atau ujung daun terlipat kedalam, serta kadang-kadang bunga dan buah muncul lebih awal. Pada per- akaran tanaman sakit tampak benang-benang jamur berwarna putih dan agak tebal (rizomorf). Jamur kadang-kadang membentuk badan buah mirip topi berwarna jingga kekuning-kuningan pada pangkal akar tanaman [3].

Serangan jamur akar putih pada tanaman karet menyebabkan penurunan produksi dan kualitas karet, getah yang dihasilkan lebih encer sehingga harga jualnya menjadi turun.
Pengendalian penyakit jamur akar putih selama ini dilakukan dengan pencegahan dan pengobatan baik secara mekanis maupun kimia. Pengendalian jamur Rigidoporus lignosus banyak menggunakan fungisida sintetik, karena dianggap lebih praktis dan cepat ter- lihat hasilnya. Namun demikian penggunaan bahan kimia sering menimbulkan residu pada lingkungan dan membunuh organisme yang bukan sasaran [4]. Oleh karena itu, upaya pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan perlu dilakukan, salah satunya adalah de- ngan menggunakan bakteri kitinolitik (pendegradasi kitin) yang melibatkan enzim kitinase.
Bakteri kitinolitik adalah bakteri penghasil enzim kitinase yang berperan dalam mendegradasi kitin menjadi N-asetilglokosamin. Organisme pendegradasi kitin umumnya berasal dari kelompok mikroorganisme diantaranya adalah dari kelompok bakteri. Bakteri yang dilaporkan memiliki aktivitas kitinase seperti, Vibrio furnissi , Serratia marcescens [5], Bacillus cir- culans [6], Bacillus thuringensis subsp. pakistani [7] dan Pseudomonas aeruginosa [8].
Aktivitas kitinase dari bakteri kitinolitik sangat potensial digunakan sebagai agen pengendalian ha- yati terhadap jamur patogen maupun serangga hama, karena kedua organisme ini mempunyai komponen kitin pada dinding selnya. Beberapa laporan menya- takan bahwa aktivitas kitinase dari Aeromonas caviae efektif digunakan untuk mengontrol serangan jamur patogen Rizoctonia solani dan Fusarium oxysporum pada kapas, dan Sclerotium rolfsii pada buncis [9]. Di samping itu aktivitas kitinase dari Bacillus circulans juga dapat menghambat pertumbuhan jamur patogen Rizoctonia solani dengan zona hambat sebesar 0,65 cm
[10].
Mikroorganisme yang dapat hidup pada daerah ri- zosfir sangat sesuai digunakan sebagai agen pengen- dalian hayati, mengingat bahwa rizosfir adalah daerah yang utama dimana akar tumbuhan terbuka terhadap patogen. Jika terdapat mikroorganisme antagonis pada daerah ini, patogen akan berhadapan selama menyebar dan menginfeksi akar [11]
Bakteri penghasil kitinase merupakan salah satu kelompok mikroorganisme yang relatif mudah dikem- bangkan sehingga akan lebih cepat melimpah jika dikembangkan dari biosfirnya. Oleh karena itu skri- ning bakteri kitinolitik dari daerah perakaran (rizosfir) dan perbanyakannya yang diikuti dengan pelepasan kembali ke daerah perakaran pertanaman merupakan usaha konservasi lingkungan rizosfir yang akan mem- berikan prospek cerah dalam usaha pengendalian penyakit jamur akar putih tanaman secara hayati. Isolat bakteri kitinolitik rizosfir tanaman karet yang diperoleh dapat dimanfaatkan sebagai agen pengen- dalian hayati penyakit jamur akar putih (Rigidoporus lignosus) pada tanaman karet dilapangan.

Oleh karena itu, upaya pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan perlu dilakukan, salah satunya adalah de- ngan menggunakan bakteri kitinolitik (pendegradasi kitin) yang melibatkan enzim kitinase.
Bakteri kitinolitik adalah bakteri penghasil enzim kitinase yang berperan dalam mendegradasi kitin menjadi N-asetilglokosamin. Organisme pendegradasi kitin umumnya berasal dari kelompok mikroorganisme diantaranya adalah dari kelompok bakteri. Bakteri yang dilaporkan memiliki aktivitas kitinase seperti, Vibrio furnissi , Serratia marcescens [5], Bacillus cir- culans [6], Bacillus thuringensis subsp. pakistani [7] dan Pseudomonas aeruginosa [8].
Aktivitas kitinase dari bakteri kitinolitik sangat potensial digunakan sebagai agen pengendalian ha- yati terhadap jamur patogen maupun serangga hama, karena kedua organisme ini mempunyai komponen kitin pada dinding selnya. Beberapa laporan menya- takan bahwa aktivitas kitinase dari Aeromonas caviae efektif digunakan untuk mengontrol serangan jamur patogen Rizoctonia solani dan Fusarium oxysporum pada kapas, dan Sclerotium rolfsii pada buncis [9]. Di samping itu aktivitas kitinase dari Bacillus circulans juga dapat menghambat pertumbuhan jamur patogen Rizoctonia solani dengan zona hambat sebesar 0,65 cm
[10].
Mikroorganisme yang dapat hidup pada daerah ri- zosfir sangat sesuai digunakan sebagai agen pengen- dalian hayati, mengingat bahwa rizosfir adalah daerah yang utama dimana akar tumbuhan terbuka terhadap patogen. Jika terdapat mikroorganisme antagonis pada daerah ini, patogen akan berhadapan selama menyebar dan menginfeksi akar [11]
Bakteri penghasil kitinase merupakan salah satu kelompok mikroorganisme yang relatif mudah dikem- bangkan sehingga akan lebih cepat melimpah jika dikembangkan dari biosfirnya. Oleh karena itu skri- ning bakteri kitinolitik dari daerah perakaran (rizosfir) dan perbanyakannya yang diikuti dengan pelepasan kembali ke daerah perakaran pertanaman merupakan usaha konservasi lingkungan rizosfir yang akan mem- berikan prospek cerah dalam usaha pengendalian penyakit jamur akar putih tanaman secara hayati. Isolat bakteri kitinolitik rizosfir tanaman karet yang diperoleh dapat dimanfaatkan sebagai agen pengen- dalian hayati penyakit jamur akar putih (Rigidoporus lignosus) pada tanaman karet dilapangan.

2. METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan mulai pada bulan Mei 2009 sampai dengan Desember 2009. Pengambilan sampel sumber isolat bakteri kitinolitik dilakukan di perke- bunan karet di Kabupaten Banyuasin. Proses skri- ning bakteri kitinolitik dan uji potensi antagonisme terhadap jamur akar putih dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas MIPA Univer- sitas Sriwijaya

Bahan yang digunakan
Bahan yang diperlukan antara lain berupa sampel tanah rizosfir dari perkebunan karet sebagai sumber isolat bakteri kitinolitik. Isolat jamur akar putih (Rigi- doporus lignosus) diperoleh dari Balai Pusat Peneli- tian Karet Sembawa Sumatera Selatan. Media agar kitin sebagai media isolasi, media NA sebagai me- dia perbanyakan bakteri, media PDA sebagai media tumbuh jamur, media untuk uji fisiologis (medium triple sugar iron agar (TSIA), medium simon citrat, medium indol, medium semi solid, medium MR-VP broth, Test medium, medium urea broth), reagen pe- warnaan Gram (Pewarna Gram A, Gram B, Gram C, dan Gram D) dan pewarna endospora (Malachite Green dan Safranin).

Cara Kerja
Pengambilan sampel tanah rizosftr tanaman karet
Sampel berupa tanah rizosfir dari sekitar akar tana- man karet diambil dari lokasi perkebunan karet di Kab. Banyuasin. Pengambilan sampel dilakukan pada 3 titik sampling yang mewakili dan dari setiap sam- pling tersebut diambil sampel tanah secara aseptik se- banyak 100 g tanah. Masing-masing sampel dima- sukkan ke dalam botol sampel yang disterilkan terlebih dahulu.

Isolasi dan Seleksi Bakteri Kitinolitik
Sampel tanah sebanyak 5 g disuspensikan dalam 45 ml larutan fisiologis steril sampai homogen dan dilakukan pengenceran sampai 10−6, tiga pengenceran terakhir dicawankan pada media agar kitin dan diinkubasi se- lama 48 jam pada suhu ruang. Koloni yang tumbuh dan membentuk zona bening disekitar koloni meru- pakan isolat bakteri kitinolitik.
Isolat-isolat yang diperoleh ditumbuhkan secara serentak dengan cara ditotolkan pada media agar kitin. Setelah diinkubasi selama 48 jam pada suhu ruang, ditentukan indek kitinolitiknya yang meru- pakan perbandingan antara diameter zona bening de- ngan diameter koloni. Uji antagonisme dilakukan de- ngan mengunakan metode Chernin dkk. [12] pada me- dia PDA di dalam cawan petri. Koloni jamur diinoku- lasikan ditengah-tengah media, dan inokulum bak- teri kitinolitik digoreskan disekitarnya dengan jarak 2cm. Biakan diinkubasi pada suhu kamar, kemudian diamati pertumbuhan jamur patogen dengan meng- ukur diameter zona hambat disekitar koloni. Isolat- isolat bakteri kitinolitik yang mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan jamur akar putih selanjut- nya akan diidentifikasi untuk mengetahui nama isolat- nya..

Karakterisasi Bakteri Kitinolitik Antagonis JAP

Karakterisasi isolat bakteri termofilik penghasil kiti- nase meliputi, makroskopis koloni, mikroskopis sel, motilitas dan uji biokimia.

  • Makroskopis koloni seperti, bentuk , elevasi dan tepian koloni.
  • Mikroskopis sel seperti, bentuk sel, sifat Gram dan ada tidaknya endospora.
  • Motilitas
  • Uji Biokimia seperti, Hidrolisis pati, hidrolisis kasein, fermentasi glukosa, fermentasi sukrosa, fermantasi laktosa, produksi H2S, produksi in- dol, produksi urease, produksi katalase, uji metil merah, uji Voges-Prokauer, uji TSIA, uji Sim- mon’s sitrat.

Identiftkasi
Hasil karakterisasi dari masing-masing isolat diidenti- fikasi dengan menggunakan buku Bergey’s Manual of Determinative Bakteriology (Buchanan, R.E. & N.E. Gibbons (CoE), 1974)

3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Isolasi dan Seleksi Bakteri Kitinolitik Rizosftr Tanaman Karet
Hasil isolasi dan seleksi bakteri kitinolitik dari rizos- fir tanaman karet diperoleh 11 isolat bakteri kitinoli- tik seperti yang terdapat pada tabel 3.1 di bawah ini. Pada tabel 3.1 dapat dilihat bahwa sebanyak 11 isolat bakteri rizosfir tanaman karet yang didapatkan hanya 4 isolat yang menunjukkan adanya aktivitas kitinase, dengan indeks kitinolitik tertinggi pada isolat BRK5 sebesar 0,52 dan yang terendah adalah isolat BRK11 sebesar 0,21. Adanya aktivitas kitinase ditandai de- ngan terbentuknya zona bening disekitar koloni bak- teri pada mdium agar kitin (Gambar 3.1).
Zona bening yang terbentuk disekitar koloni dise- babkan karena isolat bakteri tersebut menghasilkan enzim kitinase. Aktivitas kitinase dapat menguraikan kitin yang terdapat pada media agar, sehingga media yang berada disekitar koloni berwarna bening.

Gambar 1: Aktivitas kitinase dari bakteri kitinolitik ri- zosfir tanaman karet

Menurut Susi [13] kitinase merupakan metabolit yang tidak berwarna, untuk mengetahui produksi kitinase dari bakteri dapat dilihat dari warna medium menjadi transparan.
Indeks kitilitik dari masing-masing isolat bakteri kitinolitik berbeda-beda, yang paling tinggi didapat- kan pada isolat BRK5 yaitu 0,52, sedangkan yang pal- ing rendah pada isolat BRK11 yaitu 0,21. Terjadinya perbedaan indeks kitinolitik ini disebabkan perbedaan aktivitas enzim kitinase dari masing-masing isolat bakteri. Menurut Susi (2002), besarnya zona bening yang dihasilkan tergantung pada jumlah monomer N- asetilglukosamin yang dihasilkan dari proses hidroli- sis kitin dengan memutus ikatan -1,4 homopolimer N- Asetilglukosamin. Semakin besar jumlah monomer N- asetilglukosamin yang dihasilkan maka akan semakin besar zona bening yang terbentuk di sekitar koloni.

Uji Antagonis Isolat Bakteri Kitinolitik
Pengujian antagonis dari isolat bakteri kitinolitik ri- zosfir tanaman karet terhadap pertumbuhan jamur akar putih dilakukan pada media PDA. Hasil dari pengujian tersebut dapat dilihat pada tabel 3.2 di bawah ini.

Tabel 2: Hasil uji antagonis isolat bakteri kitinolitik ter- hadap JAP

Gambar 2 sebelah kanan : Pengujian antagonis isolat bakteri kitinolitik terhadap pertumbuhan jamur akar putih

Dari 4 isolat yang diuji aktivitas antagonisnya ter- hadap pertumbuhan jamur akar putih (JAP) hanya 2 isolat yang menunjukkan adanya aktivitas antago- nis terhadap JAP yaitu isolat BRK5 dan BRK7. Ke- mampuan antagonis dari bakteri kitinolitik terhadap pertumbuhan jamur akar putih ditandai dengan ter- hambatnya pertumbuhan jamur akar putih di sekitar koloni bakteri kitinolitik. Kemampuan masing-masing bakteri kitinolitik dalam menghambat pertumbuhan jamur akar putih dapat dilihat pada gambar 3.2 di atas .

Keterangan : 1.BRK5, 2.BRK6, 3.BRK7, 4.BRK11
Kemampuan isolat bakteri kitinolitik dalam meng- hambat pertumbuhan jamur akar putih disebabkan aktivitas enzim kitinase yang dihasilkan oleh isolat tersebut. Aktivitas kitinase dapat mendegradasi din- ding sel jamur, karena jamur memiliki kitin pada din- ding selnya. Gooday [14] menyatakan, aktivitas kiti- nase dapat digunakan sebagai agen biokontrol jamur patogen karena dapat mendegradasi dinding sel jamur yang terdiri dari kitin
Isolat bakteri kitinolitik BRK6 dan BRK11 tidak menunjukkan adanya sifat antagonis terhadap JAP, karena tidak dapat menghambat pertumbuhan jamur akar putih (Rigidoporus lignosus). Hal ini mungkin disebabkan perbedaan jenis kitinase yang dihasilkan oleh masing-masing isolat tersebut. Toharisman [15] menyatakan, berbagai organisme menghasilkan aneka jenis kitinase dengan spesifitas terhadap substrat yang bervariasi, juga karakteristik yang berlainan. Bak- teri menghasilkan kitinase sebagai sarana memperoleh nutrisi dan agen parasitisme, sementara fungi, proto- zoa dan invertebrata menghasilkan enzim tersebut un- tuk proses morfogenesis. Tanaman menghasilkan kiti- nase untuk mempertahankan diri dari serangan pato- gen. Baculovirus yang biasa dimanfaatkan untuk kon- trol hama serangga juga menghasilkan kitinase bagi patogenisitas. Disamping itu kitinase dilaporkan juga dihasilkan oleh darah manusia, dan diduga terlibat dalam pertahanan diri terhadap fungi patogen.

Karakteristik Isolat Bakteri Kitinolitik Antagonis Jamur Akar Putih
Karakterisasi isolat bakteri kitinolitik rizosfir tana- man karet yang antagonis terhadap pertumbuhan jamur akar putih (Rigidoporus lignosus) dilakukan berdasarkan morfologi koloni (makroskopis koloni), mikroskopis sel, motilitas dan uji biokimia, hasil karakterisasi dari isolat tersebut dapat dilihat pada tabel 3.3 dibawah ini.
Kedua isolat bakteri kitinolitik yang antagonis ter- hadap JAP tergolong kedalam genus Bacillus, hal ini ditandai dengan sel berbentuk batang, Gram posi- tif dan menghasilkan endospora. Menurut Buchanan & Gibbon [16], Bacillus memiliki bentuk batang atau hampir lurus 0, 3 2, 2µm 1, 2 7µm, Gram positif dan mampu membentuk endospora.
Kedua jenis bakteri ini sangat berpotensi digu- nakan sebagai agen pengendalian penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur, karena genus Bacillus banyak yang berperan sebagai biofungisida. Tombe dkk. [17] menyatakan, Bacillus banyak digunakan se- bagai biodekomposer limbah organik dan biofungisida untuk pengendalian patogen tanaman seperti Bacillus subtilis dan Bacillus pantotkenticus .

4. SIMPULAN
Penelitian yang telah dilakukan tentang skrining bak- teri kitinolitik rizosfir tanaman karet yang antagonis terhadap pertumbuhan jamur akar putih dapat disim- pulkan bahwa :
1. Isolasi bakteri kitinolitik dari rizosfir tanaman karet diperoleh sebanyak 4 isolat, namun hanya 2 isolat yang antagonis terhadap pertumbuhan ja- mur akar putih (Rigidoporus lignosus)

Tabel 3: Hasil karakterisasi isolat bakteri kitinolitik rizosfir tanaman karet yang antagonis terhadap pertumbuhan JAP

2. Hasil karakterisasi diketahui kedua isolat antago- nis jamur akar putih ini tergolong kedalam genus Bacillus yaitu Bacillus sp dan Bacillus apiarius

DAFTAR PUSTAKA

  • [1] Anonimus, 2006, Strategi Pengelolaan Penyakit Tanaman Karet Untuk Mempertahankan Potensi Produksi Mendukung Industri Perkaretan Indonesia Tahun 2020, Pusat Penelitian Karet, Balai Penelitian Sembawa, palembang
  • [2] Anonimus, 2007, Pengendalian Penyakit Jamur Akar Putih (Rigidoporus lignosus) Pada Tanaman Karet Di sentra Pengembangan Karet (Propinsi Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat), Ditjen Perkebunan
  • [3] Anwar, C., 2006, Majemen dan Teknologi Budidaya Karet, Makalah Pelatihan, Pusat Penelitian Karet, Medan
  • [4] Untung, K., 1996, Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu Gajah Mada University Press, Yogyakarta
  • [5] Suzuki, K., N. Taiyoji, N. Sugawara, B. Nikaidou, Henrissat and T. Watanabe, 1999, The Third Chitinase gene (chi C) of Serratia marcescens 2170 and the Relationship of its Product to Other Bacterial Chitinases, Biochem. J., 343: 587 – 596
  • [6] Watanabe, A., V.H. Nong, D. Zhang, M. Arahira, N.A. Yeboah, K. Udaka, and C. Fukazawa, 1999, Moleculer Cloning and Ethylene Inducible Expression of Chi b1 Chitinase from Soybean (Glycine max L.), Biosci Biotech Biochem, 63 : 251- 256
  • [7] Thamthiankul, S., S. Suan-Ngay, and S. Tantimavanich, 2001, Chitinase from Bacillus thuringiensis subsp. Pakistani, Journal of Appl Microbiol Biotechnol, 56 : 395 – 401
  • [8] Folders, J., J. Algra, M.C. Roelofs, C.L. Leendert, J. Tommassen, and W. Bitter, 2001, Characterization of Pseudomonas aeruginosa Chitinase a Gradually Secreted Protein, J. Bacteriology, 183 : 7044-7052
  • [9] Panda, F.T., 1999, Regulation and Cloning of Microbial Chitinase Genes, Appl. Microbiol Biotechnol, 51 : 141 – 151
  • [10] Muharni dan E. Nurnawati, 2007, Pengujian Aktivitas Kitinase Bacillus circulans Untuk Dikembangkan Sebagai Agen Biokontrol Pada Penyakit Tanaman, Jurnal Penelitian Sains, 1 : 144 – 150
  • [11] Hasanuddin, 2003, Peningkatan Peranan Mikroorganisme Dalam Sistem Pengendalian Penyakit Tumbuhan Secara Terpadu, Makalah, Jurusan HPT Pertanian USU
  • [12] Chernin, L.Z., Ismailov, S. Haran, and I. Chet, 1995, Chitinolytic Enterobacter agglomerans antagonistic to Fungal Plant Patogens, Appl Environ Microbiol, 61 : 1720 1726
  • [13] Susi, 2002, Isolasi Kitinase dari Scleroderma columnae dan Trichoderma harzianum, Jurnal Ilmu Dasar, 3(1) : 30 – 35
  • [14] Holetz, F.B., G. L. Pessini, N.R. Sanchez, D. Aparicio, G. Cortez, C.V. Nakamura, & B.P.D. Filho, 2002, Screening of Some Plants Used in The Brazillian Folk Medicine for The Treatment of Infectious I, Journal of Bioline International, http://www.bioline-org.br/request?02229
  • [15] Toharisman, A., 2007, Peluang Pemanfaatan Enzim Kitinase Di Industri Gula, Makalah, P3GI
  • [16] Buchanan, R.E. & N.E. Gibbons (CoE), 1974, Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology, 8th Ed., S.T. Cowan, J.G. Holt, J. Liston, R.G.E. Murray, C.F. Niven, A.W. Ravin & R.Y. Stanier (Eds.), Baltimore
  • [17] Tombe M., G. Purnayasa, D. Wahyuno, Sugeng dan Zulhisnain, 2002, Uji Pengendalian Busuk Akar Jambu Mete dengan Kompos, Pestisida Nabati dan Agen Hayati, Laporan Hasil Penelitian Proyek HPT, Badan Litbang Pertanian
(Visited 51 times, 1 visits today)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *