Makalah Ekspor Impor : Pengaruh Kegiatan Ekspor Impor Bagi Perekonomian Indonesia dan Kebijakan Yang Diupayakan Pemerintah Type file : Docx / Pdf
Code file : [ har11mdr10 ]

EKSPOR IMPOR INDONESIA

Sebelum membahas masalah ekspor dan impor Indonesia,terlebih dahulu makalah ini akan membahas definisi dari ekspor dan impor dan pengaruhnya terhadap Perekonomian Indonesia.

Ekspor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses ekspor pada umumnya adalah tindakan untuk mengeluarkan barang atau komoditas dari dalam negeri untuk memasukannya ke negara lain. Ekspor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima. Ekspor adalah bagian penting dari perdagangan internasional, lawannya adalah impor(Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Impor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses impor umumnya adalah tindakan memasukan barang atau komoditas dari negara lain ke dalam negeri. Impor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima. Impor adalah bagian penting dari perdagangan internasional, lawannya adalah ekspor(Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

1. Kondisi Ekspor Indonesia

Pengutamaan Ekspor bagi Indonesia sudah digalakkan sejak tahun 1983.Sejak saat itu,ekspor menjadi perhatian dalam memacu pertumbuhan ekonomi seiring dengan berubahnya strategi industrialisasi-dari penekanan pada industri substitusi impor ke industri promosi ekspor.Konsumen dalam negeri membeli barang impor atau konsumen luar negeri membeli barang domestik,menjadi sesuatu yang sangat lazim.Persaingan sangat tajam antarberbagai produk.Selain harga,kualitas atau mutu barang menjadi faktor penentu daya saing suatu produk.Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-Oktober 2008 mencapai USD118,43 miliar atau meningkat 26,92 persen dibanding periode yang sama tahun 2007, sementara ekspor nonmigas mencapai USD92,26 miliar atau meningkat 21,63 persen. Sementara itu menurut sektor, ekspor hasil pertanian, industri, serta hasil tambang dan lainnya pada periode tersebut meningkat masing-masing 34,65 persen, 21,04 persen, dan 21,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Adapun selama periode ini pula, ekspor dari 10 golongan barang memberikan kontribusi 58,8 persen terhadap total ekspor nonmigas. Kesepuluh golongan tersebut adalah, lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, mesin atau peralatan listrik, karet dan barang dari karet, mesin-mesin atau pesawat mekanik. Kemudian ada pula bijih, kerak, dan abu logam, kertas atau karton, pakaian jadi bukan rajutan, kayu dan barang dari kayu, serta timah.Selama periode Januari-Oktober 2008, ekspor dari 10 golongan barang tersebut memberikan kontribusi sebesar 58,80 persen terhadap total ekspor nonmigas. Dari sisi pertumbuhan, ekspor 10 golongan barang tersebut meningkat 27,71 persen terhadap periode yang sama tahun 2007. Sementara itu, peranan ekspor nonmigas di luar 10 golongan barang pada Januari-Oktober 2008 sebesar 41,20 persen.Jepang pun masih merupakan negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai USD11,80 miliar (12,80 persen), diikuti Amerika Serikat dengan nilai USD10,67 miliar (11,57 persen), dan Singapura dengan nilai USD8, 67 miliar (9,40 persen).Peranan dan perkembangan ekspor nonmigas Indonesia menurut sektor untuk periode Januari-Oktober tahun 2008 dibanding tahun 2007 dapat dilihat pada. Ekspor produk pertanian, produk industri serta produk pertambangan dan lainnya masing-masing meningkat 34,65 persen, 21,04 persen, dan 21,57 persen.Dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor keseluruhan Januari-Oktober 2008, kontribusi ekspor produk industri adalah sebesar 64,13 persen, sedangkan kontribusi ekspor produk pertanian adalah sebesar 3,31 persen, dan kontribusi ekspor produk pertambangan adalah sebesar 10,46 persen, sementara kontribusi ekspor migas adalah sebesar 22,10 persen.Kendati secara keseluruhan kondisi ekspor Indonesia membaik dan meningkat, tak dipungkiri semenjak terjadinya krisis finansial global, kondisi ekspor Indonesia semakin menurun. Sebut saja saat ekspor per September yang sempat mengalami penurunan 2,15 persen atau menjadi USD12,23 miliar bila dibandingkan dengan Agustus 2008. Namun, secara year on year mengalami kenaikan sebesar 28,53 persen.

2. Kondisi Impor Indonesia

Keadaan impor di Indonesia tak selamanya dinilai bagus, sebab menurut golongan penggunaan barang, peranan impor untuk barang konsumsi dan bahan baku/penolong selama Oktober 2008 mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya yaitu masing-masing dari 6,77 persen dan 75,65 persen menjadi 5,99 persen dan 74,89 persen. Sedangkan peranan impor barang modal meningkat dari 17,58 persen menjadi 19,12 persen.Sedangkan dilihat dari peranannya terhadap total impor nonmigas Indonesia selama Januari-Oktober 2008, mesin per pesawat mekanik memberikan peranan terbesar yaitu 17,99 persen, diikuti mesin dan peralatan listrik sebesar 15,15 persen, besi dan baja sebesar 8,80 persen, kendaraan dan bagiannya sebesar 5,98 persen, bahan kimia organik sebesar 5,54 persen, plastik dan barang dari plastik sebesar 4,16 persen, dan barang dari besi dan baja sebesar 3,27 persen.
Selain itu, tiga golongan barang berikut diimpor dengan peranan di bawah tiga persen yaitu pupuk sebesar 2,43 persen, serealia sebesar 2,39 persen, dan kapas sebesar 1,98 persen. Peranan impor sepuluh golongan barang utama mencapai 67,70 persen dari total impor nonmigas dan 50,76 persen dari total impor keseluruhan.

Data terakhir menunjukkan bahwa selama Oktober 2008 nilai impor nonmigas Kawasan Berikat (KB/kawasan bebas bea) adalah sebesar USD1,78 miliar. Angka tersebut mengalami defisit sebesar USD9,3 juta atau 0,52 persen dibanding September 2008.

Sementara itu, dari total nilai impor nonmigas Indonesia selama periode tersebut sebesar USD64,62 miliar atau 76,85 persen berasal dari 12 negara utama, yaitu China sebesar USD12,86 miliar atau 15,30 persen, diikuti Jepang sebesar USD12,13 miliar (14,43 persen). Berikutnya Singapura berperan 11,29 persen, Amerika Serikat (7,93 persen), Thailand (6,51 persen), Korea Selatan (4,97 persen), Malaysia (4,05 persen), Australia (4,03 persen), Jerman (3,19 persen), Taiwan (2,83 persen), Prancis (1,22 persen), dan Inggris (1,10 persen). Sedangkan impor Indonesia dari ASEAN mencapai 23,22 persen dan dari Uni Eropa 10,37 persen

PENGERTIAN EKSPOR DAN IMPOR

Secara etimologi, ekspor diartikan sebagai kegiatan menjual barang/material tertentu dari dalam ke luar negeri, sedangkan badan/orang yang melakukan kegiatan tersebut disebut eksportir. Barang yang dijual biasanya merupakan hasil alam melimpah yang terdapat di dalam negara yang melakukan kegiatan ekspor.

  1.  Pengertian, Penyebab, dan Jenis – Jenis Inflasi

Kegiatan ekspor ini biasanya dapat berlangsung secara langsung maupun tidak langsung. Ekspor secara langsung merupakan kegiatan menjual barang atau jasa melalui eksportir yang bertempat di negara lain atau negara tujuan ekspor. Sedangkan ekspor secara tidak langsung merupakan kegiatan penjualan yang dilakukan oleh eksportir negara asal yang kemudian dijual oleh perantara tersebut. Ekspor secara langsung biasanya kontrol terhadap distribusi biasanya lebih baik dibandingkan ekspor secara tidak langsung.

Di Indonesia, material yang sering diekspor terdiri atas dua jenis yaitu migas (minyak dan gas alam) dan non-migas. Material yang tergolong dalam kelompok migas antara lain bensin, minyak tanah, gas elpiji, dan solar. Sedangkan material nonmigas dapat berupa hasil tambang nonmigas, hasil industri, hasil laut, hasil pertanian, dan hasil perkebunan. Biasanya, material yang diekspor tersebut harganya akan melonjak tinggi di luar negeri dibandingkan di dalam negeri.Beralih ke istilah kedua kita, yaitu impor. Istilah impor diartikan sebagai suatu kegiatan pembelian barang dari luar negeri yang kemudian material tersebut dijual di dalam negeri untuk kebutuhan dalam negeri.Lembaga/orang yang melakukan kegiatan ini disebut importir. Kegiatan impor akan berlangsung jika material yang akan dipasok ke dalam negeri harganya lebih mrah di luar negeri. Contoh yang dapat kita ambil, misalnya Indonesia membutuhkan gandum untuk pemenuhan pangan. Namun, karena kondisi tumbuh gandum yang tidak memungkinkan di Indonesia dilakukanlah kegiatan mendatangkan gandum dari negara lain ke Indonesia. Kegiatan inilah yang disebut sebagai impor.Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwasanya ekspor dan impor merupakan .kedua istilah yang saling terkait yang menggambarkan kegiatan perdagangan internasional dan minimal melibatkan dua pihak. Kegiatan ekspor dan impor sangat menjadi faktor penentu kesejahteraan negara dan masyarakatnya dalam bidang perekonomian.

b. Tujuan Ekspor dan Impor

Secara umum, tujuan dilakukannya kegiatan ekspor impor ialah dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakatnya serta menambah devisa negara dalam pencapaian kehidupan yang sejahtera. Namun, jika kedua istilah kegiatan tersebut dipilah, maka keduanya memiliki tujuan yang berbeda namun saling berkaitan.

Berikut ini tujuan dilakukannya kegiatan ekspor, yaitu:

  • Untuk membuka pasar baru di luar negeri
  • Untuk memperoleh laba berupa devisa
  • Untuk memperoleh harga jual yang tinggi

Baca juga: Macam – macam Kebutuhan Manusia

Adapun tujuan kegiatan impor dilakukan oleh importir, antara lain:

  • Kebutuhan masyarakat negara importir terpenuhi
  • Kebutuhan material/barang produksi dapat diperoleh dari negara lain
  • Barang/ material yang diperoleh dari negara lain lebih terjangkau

MANFAAT EKSPOR DAN IMPOR

Kegiatan ekspor dan impor memberikan banyak manfaat bagi negara yang terlibat dan masyarakatnya. Adapun manfaat yang diperoleh dari kegiatan ekspor, antara lain:

a. Menambah devisa negara

Devisa merupakan aset penting dalam meningkatkan perekonomian suatu negara. Kegiatan ekspor menyumbangkan devisa yang besar, terutama bagi negara eksportir.

b. Memperluas pasar bagi produk lokal

Kegiatan ekspor sangat berperan dalam memasarkan produk dalam negeri ke luar negeri. Semakin besar permintaan produk dalam negeri di luar negeri akan semakin besar kegiatan produksi yang berlangsung di dalam negeri. Misalnya, Indonesia khas dengan pakaian batik. Ketika dilakukan pemasaran batik di luar negeri dan permintaannyaa meningkat, secara otomatis kegiatan produksi batik di Indonesia pun akan meningkat pula.

c. Memperluas lapangan kerja

Ketersediaan lapangan kerja yang luas sangat penting dalam upaya untuk mengurangi angka pengangguran dan beban tanggungan negara. Dengan adanya kegiatan ekspor yang berperan dalam perluasan produk lokal, secara tidak langsung akan meningkatkan lapangan kerja dalam negeri. Misalnya, seperti kasus batik sebelumnya yang kegiatan produksinya meningkat dikarenakan meningkatnya permintaan pasar dunia. Dengan begitu, untuk memproduksi batik yang efisien sesuai dengan jumlah permintaan dibutuhkan penambahan tenaga kerja sehingga dibukalah lowongan kerja. Oleh karena itu, angka pengangguran akan berkurang.

d. Meningkatkan hubungan kerjasama antarnegara perdagangan

Hubungan kerjasama ini terjalin karena peran penting masing negara terhadap ketersediaan kebutuhan material/jasa masing masing negara.Selain negara eksportir, negara importir juga memperoleh banyak manfaat dari kegiatan ekspor impor. Berikut ini beberapa manfaatnya, yaitu:

a. Memperoleh bahan baku

Bahan baku sangat penting dalam kegiatan produksi suatu barang. Ketersediaan pasokan bahan baku harus terkontrol agar kegiatan produksi berjalan lancar. Nah, biasanya bahan baku yang diproduksi di dalam negeri relatif lebih mahal dibandingkan dengan yang diproduksi di luar negeri bahkan terkadang tidak tersedia di dalam negeri. Oleh karena itu, produsen dalam negeri cenderung mengimpor bahan baku dari luar negeri.

b. Memperoleh barang dan jasa yang tidak bisa diproduksi sendiri

Setiap negara kaya akan hasil alam dengan jenis yang berbeda-beda. Sedangkan pemenuhan kebutuhan tidak semerta-merta cukup dengan pasokan yang ada di dalam negeri. Oleh karena itu, kegiatan impor dilakukan sehingga barang dan jasa yang tidak ada di dalam negeri dapat tersedia untuk pemenuhan kebutuhan masyarakatnya.

c. Memperoleh teknologi modern

Teknologi modern berperan penting terhadap kemudahan produksi material/barang terentu. Namun, pada negara berkembang seperti Indonesia ketersediaan teknologi modern masih sangat minim. Untuk mengatasi hal tersebut, maka Indonesia melakukan kegiatan impor teknologi dari luar negeri untuk mendukung kegiatan produksi yang lebih efisien.

d. Menambah pemasukan atau pendapatan negara

Pemasukan atau pendapatan negara dapat bertambah dipengaruhi oleh faktor nilai jual barang lebih mahal dibandingkan nilai yang dibeli dari kegiatan ekspor.


DAMPAK EKSPOR DAN IMPOR

Kegiatan ekspor dan impor tidak hanya memberikan dampak positif terhadap negara dan masyakat yang melakukan perdagangan, melainkan dampak negatif juga dapat timbul jika pemanfaatan kegiatan tersebut dilakukan kurang bijaksana, terutama kegiatan impor. Dampak negatif yang muncul akibat kegiatan impor biasanya itu dapat berupa:

a. Meningkatkan angka pengangguran.

Peningkatan angka penggangguran dikarenakan lapangan pekerjaan yang  seharusnya tersedia, namun dengan melakukan kegiatan impor secara otomatis kesempatan membuka lapangan tersebut hilang karena ketersediaan barang sudah diimpor.

b. Menciptakan persaingan bagi industri dalam negeri

Kegiatan impor dapat menyebabkan produsen dalam negeri kewalahan dalam menyairingi produsen luar negeri sehingga ditakutkan produsen dalam negeri cenderung mengalah yang pada akhirnya menjadi tidak berkembang.

c. Konsumerisme

Konsumerisme merupakan konsumsi berlebihan terhadap barang barang impor yang menyebabkan devisa negara terus berkurang.Oleh karena itu, untuk meminimalisir dampak negatif dilakukan pembatasan kegiatan impor dengan cara melindungi produsen yang ada di dalam negeri. Adapun dampak positif dari pembatasan tersebut, meliputi:

  • Mengurangi jumlah pengeluaran devisa ke negara importir,
  • Mengurangi ketergantungan terhadap barang/ material impor,
  • Menumbuhkan rasa cinta terhadap produk dalam negeri, dan
  • Memperkuat neraca pembayaran

Meskipun pembatasan jumlah barang impor dilakukan, namun tetap saja masih ada dampak negatif yang muncul. Dampak negatif dari pembatasan kegiatan impor tersebut, antara lain:

a. Produsen kurang efisien dalam kegiatan produksi

Ketidakefisienan produksi produk dalam negeri terjadi akibat kurangnya daya saing dalam upaya untuk meningkatkan mutu produksi.

b. Lesunya perdagangan Internasional

Perdagangan menjadi lesu dapat diawali akibat pembatasan kegiatan perdagangan dari salah satu pihak yang kemudian pihak lain melakukan pembalasan karena merasa dirugikan.

c. Pertumbuhan perekonomian negara terganggu

Terganggunya pertumbuhan perekonomian dipicu oleh faktor perdagangan yang lesu, dikarenakan jumlah devisa yang diterima negara mengalami penurunan.

Demikian pembahasan kali ini terkait dengan Ekspor dan Impor dengan fokus bahasan meliputi pengertian, tujuan, manfaat, dan dampak dari kegiatan Ekspor dan Impor.Semoga informasi yang kami sajikan bermanfaat.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Setiap negara memiliki kekayaan alam atau sumber daya alam yang berbeda-beda satu sama lain, oleh karena itu dibutuhkannya komoditi yang tidak tersedia antara negara satu dan negara yang lain. Dengan adanya komidi tersebut, akan terjadi perdagangan atau pertukaran komoditi antara negara satu dan negara yang lain. Terjadilah kegiatan ekspor dan impor tiap negara. Seperti yang dinyatakan oleh Amir (2001:1)

“Perdagangan internasional ekspor impor adalah kegiatan yang dijalankan eksportir maupun produsen eksportir dalam transaksi jual beli suatu komoditi dengan orang asing, bangsa asing, dan negara asing.Kemudian penjual dan pembeli yang lazim disebut eksportir dan importir melakukan pembayaran dengan valuta asing.”

Kinerja ekspor Indonesia pada 2013 diperkirakan belum dapat pulih sepenuhnya setelah mengalami defisit neraca perdagangan beberapa kali sepanjang 2012.Apalagi pemulihan krisis Uni Eropa dan Amerika Serikat menunjukkan tren perbaikan yang lamban ditambah masih adanya tren penurunan harga komoditas di pasar internasional.

Terbatasnya persediaan di suatu negara, kegiatan impor pun digagas.Kegiatan ekspor impor juga dapat menumbuhkan hubungan harmonis antarbangsa. Dengan perdagangan internasional ini, banyak pihak dilibatkan dan sama-sama mendapat keuntungan, baik keuntungan hasil jual maupun keuntungan atas pemenuhan kebutuhan.Ekspor impor juga merupakan salah satu lapangan pekerjaan yang besar pengaruhnya bagi para pebisnis.

Pengutamaan ekspor bagi Indonesia sudah digalakkan sejak tahun 1983.Sejak saat itu, ekspor menjadi perhatian dalam memacu pertumbuhan ekonomi seiring dengan berubahnya strategi industrialisasi dari penekanan pada industri substitusi impor ke industri promosi ekspor.Konsumen dalam negeri membeli barang impor atau konsumen luar negeri membeli barang domestik, menjadi sesuatu yang sangat lazim.Persaingan sangat tajam antar-berbagai produk.Selain harga, kualitas atau mutu barang menjadi faktor penentu daya saing suatu produk.

Berdasarkan permasalahan di atas, makalah ini mengambil judul “Pengaruh Kegiatan Ekspor Impor terhadap Perekonomian di Indonesia” sebagai bentuk karya tulis yang memaparkan tentang ekspor impor di Indonesia.

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, diketahui bahwa ekspor impor banyak memberi pengaruh terhadap perekonomian maka dapat diambil permasalahannya sebagai berikut:

  1. Bagaimana kegiatan ekspor impor dapat memengaruhi perekonomian Indonesia?
  2. Kebijakan apa saja yang diupayakan pemerintah untuk meningkatkan ekspor impor bagi perekonomian di Indonesia?

1.3  Tujuan Penilitian

Adapun makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui cara kegiatan ekspor impor memengaruhi perekonomian Indonesia.
  2. Untuk mengetahui berbagai macam kebijakan yang diupayakan pemerintah untuk meningkatkan ekspor impor bagi perekonomian di Indonesia.

1.4  Manfaat Penelitian

Adapun makalah ini memiliki manfaat sebagai berikut:

  1. Dapat menambah wawasan kepada pembaca atau masyarakat luas tentang pengaruh ekspor impor bagi perekonomian di Indonesia.
  2. Dapat mengetahui atau lebih mengenal kelebihan dan kekurangan dari pengaruh ekspor  impor bagi perekonomian di Indonesia.

1.5 Luaran yang Diharapkan

Berikut ini adalah luaran yang diharapkan dengan dibuatnya makalah ini:

  1. Adanya kesadaran dari masyarakat tentang pengaruh ekspor impor bagi perekonomian di Indonesia.
  2. Masyarakat lebih mengerti dan poeduli tentang kelebihan dan kekurangan ekspor impor bagi perekonomian di Indonesia.

1.6  Kegunaan

  1. Untuk Mahasiswa
  • Untuk memperluas wawasan pembaca tentang pengaruh ekspor impor untuk perekonomian Indonesia.
  • Agar mahasiswa mengerti perkembangan dan permasalahan kegiatan ekspor impor.

2. Untuk Masyarakat

  • Agar masyarakat mengerti tentang kekurangan dan kelebihan dari pengaruh ekspor impor untuk perekonomian Indonesia.
  • Agar menambah wawasan masyarakat tentang pengaruh ekspor impor untuk perekonomian Indonesia.

BAB II

KAJIAN TEORI

Ekspor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses ekspor pada umumnya adalah tindakan untuk mengeluarkan barang atau komoditas dari dalam negeri untuk memasukannya ke negara lain. Ekspor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima. Ekspor adalah bagian penting dari perdagangan internasional.

Impor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses impor umumnya adalah tindakan memasukan barang atau komoditas dari negara lain ke dalam negeri. Impor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima. Impor adalah bagian penting dari perdagangan internasional.

Pengutamaan ekspor bagi Indonesia sudah digalakkan sejak tahun 1983.Sejak saat itu, ekspor menjadi perhatian dalam memacu pertumbuhan ekonomi seiring dengan berubahnya strategi industrialisasi dari penekanan pada industri substitusi impor ke industri promosi ekspor.Konsumen dalam negeri membeli barang impor atau konsumen luar negeri membeli barang domestik, menjadi sesuatu yang sangat lazim.Persaingan sangat tajam antarberbagai produk.Selain harga, kualitas atau mutu barang menjadi faktor penentu daya saing suatu produk.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia pada periode Januari-Oktober 2008 mencapai USD118,43 miliar atau meningkat 26,92 persen dibanding periode yang sama tahun 2007, sementara ekspor nonmigas mencapai USD92,26 miliar atau meningkat 21,63 persen. Sementara itu menurut sector ekspor hasil pertanian, industri, serta hasil tambang dan lainnya pada periode tersebut meningkat masing-,masing 34,65 persen, 21,04 persen, dan 21,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

BAB III

METODE PENILITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

        Penelitian ini menggunakan metode kualitatif.Dalam penelitian ini mendeskripsikan kegiatan ekspor impor.

        Ekspor impor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu Negara ke Negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses ekspor impor terjadi karena ketidak tersediaannya barang atau komoditi dalam suatu Negara tersebut sehingga terjadi kegiatan ekspor impor.

3.2  Data Penelitian

Data yang diambil adalah kegiatan ekspor impor Indonesia dan pengaruh ekspor impor Indonesia.

1.      Kegiatan ekspor impor Indonesia

Produk kegiatan ekspor impor Indonesia adalah barang konsumsi dan bahan baku. Barang konsumsi merupakan kebutuhan sehari-hari sedangkan bahan baku merupakan barang-barang yang diperlukan untuk kegiatan produksi industri.

2.      Pengaruh ekspor impor Indonesia

Pengaruh untuk masyarakat, memperluas pasar bagi produk Indonesia. Semakin luasnya pasar bagi produk Indonesia, maka kegiatan dalam negeri akan meningkat semakin banyak sehingga banyak pula tenaga kerja yang dibutuhkan.

Pengaruh untuk negara, dengan semakin banyaknya transaksi kegiatan ekspor impor maka akan menambah devisa dan kekayaan Negara akan bertambah.

3.3  Sumber Data

Sumber data yang didapat nilai ekspor Indonesia pada periode Januari – Februari 2008 mencapai USD 118,43 M atau meningkat 26,92 % dibanding periode yang sama tahun 2007, sementara ekspor non migas mencapai USD 92,26 M atau meningkat 21,63%. Sementara itu menurut sektor ekspor hasil pertanian, industri, serta hasil tambang dan lainnya. Pada periode tersebut meningkat masing – masing 34,65%; 21,04%; dan 21,57% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

3.4  Teknik Pengumpulan Pengaruh Kegiatan Ekspor Impor Terhadap Perekonomian di Indonesia

Adapun teknik pengumpulan data yang kami gunakan dalam penyusunan makalah ini, sebagai berikut:

  1. Teknik simak catat, mengulas pembahasan tentang pengaruh kegiatan ekspor impor di Indonesia, setelah itu catat poin-poin yang dapat  dianalisis untuk bahan makalah ini.
  2. Teknik mengunduh, pengaruh kegiatan ekspor dan imporini mengambil data pembaca yang bersumber dari internet 
  3. Teknik reduksi data, pengaruh kegiatan ekspor dan impor ini setelah mengunduh data dari internet kami meredaksi data.
  4. Teknik penyajian data,
  5. Teknik interprestasi,
  6. Teknik penarikan simpulan pengaruh kegiatan dengan cara mengembil garis besar.

3.5  Teknik Analisa Data

Analisis dan Hasil Pembahasan

Analisis pengaruh ekspor dan impor bagi perekonomian di Indonesia

  • Data

Data yang didapat merupakan data sekunder yang berupa laporan atau data dari pihak tertentu. Data didapat dari berbagai macam sumber. Salah satunya gambaran data menurut State Statistical Bureau, dilihat dari pertumbuhan ekonomi cina sebagai berikut :

Nilai GDP tahun 1998 sebesar US$ 960,8 milyar sedangkan pada tahun 2000 mencapai US$ 1,078 triliyun. Untuk tahun 2001 dari Januari-September mencapai US$ 810 milyar. Prediksi untul tahun 2002 mencapai US$ 1,51 triliyun. Pencapaian ini melebihi negara-negara lainnyaa di Asia. Kenaikan GDP sebesar 7,1 % pada tahun 1999 melebihi perkiraan sebelumnya, sebesar 6,6 %. Pada tahun 2000, GDP mencapai kenaikan 8%, melebihi perkiraan sebelumnya yaitu 7,5%.

  • Ekspor di Indonesia

Pada sumber UNCTAD dalam Hasibuan (2001) mencatat, pangsa pasar manufaktur dan pertanian dalam ekspor total di Indonesia (dalam persen) adalah :

Pangsa Pasar Manufaktur dan Pertanian Dalam Ekspor Total di Indonesia (dalam persen)

Selama lima tahun terakhir (2005-2009) pertumbuhan ekspor Indonesia cenderung meningkat sebesar 20%/pertahun, begitu pula pertumbuhan impor cenderung meningkat sebesar 9,7%/tahun. Pada Tahun 2009 Indonesia menduduki peringkat ke-29 dalam ekspor dunia dan posisi ke-28 dalam impor dunia. Selama tahun 2009, sektor Industri menyumbang 75,3%, pertambangan 20,2% dan pertanian 4,5 % terhadap total eskpor Indonesia. Negara yang menjadi mitra Dagang utama Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat Singapura, RRC dan India.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari – Oktober 2008 mencapai USD118,43 miliar atau meningkat 26,92 persen dibanding periode yang sama tahun 2007, sementara ekspor nonmigas mencapai USD92,26 miliar atau meningkat 21,63 persen. Sementara itu menurut sektor, ekspor hasil pertanian, industri, serta hasil tambang dan lainnya pada periode tersebut meningkat masing-masing 34,65%, 21,04%, dan 21,57% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan selama Januari-Desember 2008 nilai ekspor sebesar US$136,76 miliar meningkat sebesar 19,86 persen dibanding ekspor pada periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas mencapai sebesar US$107,8 miliar atau meningkat 17,16 persen

 Jika dilihat dari sektoral, pada 2008 kontribusi ekspor produk industri mencapai sebesar 64,38 persen, tambang 10,84 persen, pertanian 3,61 persen, dan sisanya merupakan kontribusi dari migas. Dimana apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sektor pertanian mengalami peningkatan sebesar 34,98 persen, pertambangan dan lainnya 24,62 persen, serta industri sebesar 15,15 persen.

  • Impor di Indonesia

Dalam tahun 2000, Indonesia merupakan negara urutan ke-14 sebagai negara tujuan ekspor china, dan urutan ke-13 sebagai negara sumber impor china (Atase Perindag, 2000)

Menurut catatan CBS ekspor China ke Indonesia tahun 2000 sebesar 3,06 milyar dollar AS, naik sebesar 60% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 906 juta dollar AS. Untuk tahun 2001 sampai bulan september sebesar 2,12 milyar dollar AS turun 6, 19%, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,18 milyar dolar AS.

Nilai ekspor RRC ke Indonesia terdiri atas Migas dan Non Migas. Untuk migas ternyata mengalami kenaikan pesat 189,21% yakni dari 95,55 juta $ menjadi 276,35 juta $.

  • Eksplorasi Data

Di Indonesia sudah sering sekali melakukan kegiatan ekspor impor. Ada beberapa provinsi yang sering sekali mengimpor barang dari luar negeri,

Tidak hanya mengimpor, Indonesia juga merupakan negara pengekspor barang – barang tertentu, salah satu contoh hasil perkebunan yaitu tembakau. Tembakau Indonesia menempati posisi 7 dalam sepuluh negara terbesar produsen daun tembakau pada tahun 2002 sebesar 144.700 ton.

Hampir seluruh (96%) produksi tembakau Indonesia berasal dari tiga propinsi. Produksi tembakau  terbanyak   adalah di propinsi Jawa Timur (56%) kemudian Jawa Tengah (23%) dan NTB (17%) dan  sisanya di Yogyakarta, Sumatera Utara, Jawa Barat dan Bali.

Kegiatan impor yang dilakukan indonesia salah satunya adalah impor beras. Bulog biasanya mengimpor beras dari negara-negara tetangga. Sebagai sampel negara Thailand, India, dan Vietnam merupakan salah satu negara yang sering diimpor berasnya oleh indonesia. Berdasarkan data Bulog per 30 Mei, impor beras dari Thailand kuota 200.000 ton dengan mekanisme G to G baru terealisasi sebanyak 35.700 ton. Padahal batasan impor jatuh pada bulan Juni. Hingga kini, realisasi izin impor beras kuota 1,5 juta ton, baik mekanisme tender maupun G to G dengan Thailand dan Vietnam, baru terealisasi sebanyak 640.421 ton dari kontrak sekitar 1,12 juta ton.

  • Variabel dan Indikator

Ekpor impor termasuk dalam indikator perekonomian yang berguna untuk memajukan perekonomian suatu negara. Ekspor impor juga merupakan indikator makroekonomi. Dari data ekspor, impor, dan tradebalance (ekspor minus impor) Indonesia, baik perdagangan yang terjadi dengan mitra dagang di dalam kawasan ASEAN(intra-ASEAN) maupun di luar kawasan ASEAN(extra-ASEAN).

Semua indikator perdagangan internasional tumbuh sekitar 0,5%-2,5% untuk periode 1993-2001, kecuali indikator ekspor Indonesia di luar ASEAN (extra-ASEAN) yang pertumbuhannya nol persen (0%) untuk periode yang sama. Pertumbuhan tersebut dapat dilihat secara visual pada gratik 1-3.

Variabel penting dalam perekonomian terdiri dari Ekspor tahun berjalan, Ekspor tahun lalu, (ekspor – impor) tahun lalu, Hutang LN tahun lalu, Devaluasi dari tahun 1984-2001. selain variabel tersebut, ada juga jumlah produksi, banyaknya ekspor, harga FOB serta nilai ekspor neto produk.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Kegiatan Ekspor dan Impor Mempengaruhi Perekonomian di Indonesia

Pengutamaan ekspor bagi Indonesia sudah digalakkan sejak tahun 1983. Sejak saat itu, ekspor menjadi perhatian dalam memacu pertumbuhan ekonomi seiring dengan berubahnya strategi industrialisasi dari penekanan pada industri substitusi impor ke industri promosi ekspor. Konsumen dalam negeri membeli  barang impor atau konsumen luar negeri membeli barang domestik, menjadi sesuatu yang sangat lazim. Persaingan sangat tajam antar berbagai produk.

Selain harga, kualitas atau mutu barang menjadi faktor penentu daya saing suatu produk. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari – Oktober 2008 mencapai USD118,43 miliar atau meningkat 26,92% dibanding periode yang sama tahun 2007, sementara ekspor nonmigas mencapai USD92,26 miliar atau meningkat 21,63%. Sementara itu menurut sektor, ekspor hasil pertanian, industri,

serta hasil tambang dan lainnya pada periode tersebut meningkat masing-masing 34,65%, 21,04%, dan 21,57% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Adapun selama periode ini pula, ekspor dari 10 golongan barang memberikan kontribusi 58,8% terhadap total ekspor nonmigas. Kesepuluh golongan tersebut adalah, lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, mesin atau peralatan listrik, karet dan barang dari karet, mesin-mesin atau pesawat mekanik. Kemudian ada pula bijih, kerak, dan abu logam, kertas atau karton, pakaian jadi bukan rajutan, kayu dan barang dari kayu, serta timah. Selama periode Januari – Oktober 2008, ekspor dari 10 golongan barang tersebut memberikan kontribusi sebesar 58,80% terhadap total ekspor nonmigas. Dari sisi pertumbuhan, ekspor 10 golongan barang tersebut meningkat 27,71% terhadap periode yang sama tahun 2007. Sementara itu, peranan ekspor nonmigas di luar 10 golongan barang pada Januari – Oktober  2008 sebesar 41,20%.

Peranan dan perkembangan ekspor nonmigas Indonesia menurut sektor untuk periode Januari – Oktober  tahun 2008 dibanding tahun 2007 dapat dilihat pada. Ekspor produk pertanian, produk industri serta produk pertambangan dan lainnya masing-masing meningkat 34,65%, 21,04%, dan 21,57%.

Dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor keseluruhan Januari-Oktober 2008, kontribusi ekspor produk industri adalah sebesar 64,13%, sedangkan kontribusi ekspor produk pertanian adalah sebesar 3,31%, dan kontribusi ekspor produk pertambangan adalah sebesar 10,46%, sementara kontribusi ekspor migas adalah sebesar 22,10%.

Secara keseluruhan kondisi ekspor Indonesia membaik dan meningkat, tak dipungkiri semenjak terjadinya krisis finansial global, kondisi ekspor Indonesia semakin menurun. Ekspor per September yang sempat mengalami penurunan 2,15% atau menjadi USD12,23 miliar bila dibandingkan dengan Agustus 2008. Namun, dari tahun ke tahun mengalami kenaikan sebesar 28,53%.

            Keadaan impor di Indonesia tak selamanya dinilai bagus, sebab menurut golongan penggunaan barang, peranan impor untuk barang konsumsi dan bahan baku/penolong selama Oktober 2008 mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya yaitu masing-masing dari 6,77 persen dan 75,65 persen menjadi 5,99 persen dan 74,89 persen. Sedangkan peranan impor barang modal meningkat dari 17,58 persen menjadi 19,12 persen. Sedangkan dilihat dari peranannya terhadap total impor nonmigas Indonesia selama Januari-Oktober 2008, mesin per pesawat mekanik memberikan peranan terbesar yaitu 17,99 persen, diikuti mesin dan peralatan listrik sebesar 15,15 persen, besi dan baja sebesar 8,80

persen, kendaraan dan bagiannya sebesar 5,98 persen, bahan kimia organik sebesar 5,54 persen, plastik dan barang dari plastik sebesar 4,16 persen, dan barang dari besi dan bajasebesar 3,27 persen. Selain itu, tiga golongan barang berikut diimpor dengan peranan di bawah tiga persen yaitu pupuk sebesar 2,43 persen, serealia sebesar 2,39 persen, dan kapas sebesar 1,98 persen. Peranan impor sepuluh golongan barang utama mencapai 67,70 persen dari total impor

nonmigas dan 50,76 persen dari total impor keseluruhan.

4.2 Kebijakan yang Diupayakan Pemerintah untuk Meningkatkan Ekspor Impor di Indonesia.

Beberapa ekonom menyebutkan bahwa Indonesia mengalami perbaikan ekonomi. Pasar internasional juga sedang menunjukkan pemulihan dengan kemampuan pasar yang berpotensi menyerap pasokan produk industri nasional. Jadi ada peluang meningkatkan kinerja ekspor bila Indonesia bisa mengoptimalkan kapasitas produksi dalam negeri karena pulihnya pasar global. Tentu merumuskan kebijakan ekspor yang menjamah permasalahan semua lini bisnis dalam perdagangan internasional menjadi penting. Prestasi mengangkat kembali nilai ekspor tergantung dari kebijaksanaan ekonomi yang ditempuh baik yang berada dalam lini bisnis vital maupun pendukung secara kuantitatif.

Kebijakan-Kebijakan perdagangan Internasional yang telah diupayakan oleh pemerintah, diantaranya:

1. Tarif

Tarif adalah sejenis pajak yang dikenakan atas barang-barang yang diimpor. Tarif spesifik (Specific Tariffs) dikenakan sebagai beban tetap atas unit barang yang diimpor. Misalnya $6 untuk setiap barel minyak). Tarifold Valorem (od Valorem Tariffs) adalah pajak yang dikenakan berdasarkan persentase tertentu dari nilai barang-barang yang diimpor (misalnya, tarif 25 % atas mobil yang diimpor). Dalam kedua kasus dampak tarif akan meningkatkan biaya pengiriman barang ke suatu negara.

2. Subsidi ekspor

Subsidi ekspor adalah pembayaran sejumlah tertentu kepada perusahaan atau perseorangan yang menjual barang ke luar negeri, seperti tarif, subsidi ekspor dapat berbentuk spesifik (nilai tertentu per unit barang) atau Od Valorem (presentase dari nilai yang diekspor). Jika pemerintah memberikan subsidi ekspor, pengirim akan mengekspor, pengirim akan mengekspor barang sampai batas dimana selisih harga domestik dan harga luar negeri sama dengan nilai subsidi. Dampak dari subsidi ekspor adalah meningkatkan harga di negara pengekspor sedangkan di negara pengimpor harganya turun.

3. Pembatasan impor

Pembatasan impor (Import Quota) merupakan pembatasan langsung atas jumlah barang yang boleh diimpor. Pembatasan ini biasanya diberlakukan dengan memberikan lisensi kepada beberapa kelompok individu atau perusahaan. Misalnya, Amerika Serikat membatasi impor keju. Hanya perusahaan-perusahaan dagang tertentu yang diizinkan mengimpor keju, masing-masing yang diberikan jatah untuk mengimpor sejumlah tertentu setiap tahun, tak boleh melebihi jumlah maksimal yang telah ditetapkan. Besarnya kuota untuk setiap perusahaan didasarkan pada jumlah keju yang diimpor tahun-tahun sebelumnya.

4. Pengekangan ekspor sukarela

Bentuk lain dari pembatasan impor adalah pengekangan sukarela (Voluntary Export Restraint), yang juga dikenal dengan kesepakatan pengendalian sukarela (Voluntary Restraint Agreement = ERA). VER adalah suatu pembatasan kuota atas perdagangan yang dikenakan oleh pihak negara pengekspor dan bukan pengimpor. Contoh yang paling dikenal adalah pembatasan atas ekspor mobil ke Amerika Serikat yang dilaksanakan oleh Jepang sejak 1981.VER pada umumnya dilaksanakan atas permintaan negara pengimpor dan disepakati oleh negara pengekspor untuk mencegah pembatasan-pembatasan perdagangan lainnya. VER

mempunyai keuntungan-keuntungan politis dan legal yang membuatnya menjadi perangkat kebijakan perdagangan yang lebih disukai dalam beberapa tahun belakangan. Namun dari sudut pandang ekonomi, pengendalian ekspor sukarela persis sama dengan kuota impor dimana lisensi diberikan kepada pemerintah asing dan karena itu sangat mahal bagi negara pengimpor.

VER selalu lebih mahal bagi negara pengimpor dibandingan dengan tarif yang membatasi impor dengan jumlah yang sama. Bedanya apa yang menjadi pendapatan pemerintah dalam tarif menjadi (rent) yang diperoleh pihak asing dalam VER, sehingga VER nyata-nyata

mengakibatkan kerugian.

5. Persyaratan kandungan lokal.

Persyaratan kandungan local (local content requirement) merupakan pengaturan yang mensyaratkan bahwa bagian-bagian tertentu dari unit-unit fisik, seperti kuota impor minyak AS di tahun 1960-an. Dalam kasus lain, persyaratan ditetapkan dalam nilai, yang mensyaratkan pangsa minimum tertentu dalam harga barang berawal dari nilali tambah domestik. Ketentuan kandungan lokal telah digunakan secara luas oleh negara berkembang yang beriktiar mengalihkan basis manufakturanya dari perakitan kepada pengolahan bahan-bahan antara (intermediate goods). Di Amerika Serikat rancangan undang-undang kandungan local untuk kendaraan bermotor diajukan tahun 1982 tetapi hingga kini belum diberlakukan.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Sejak tahun 1987 ekspor Indonesia mulai didominasi oleh komoditi non migas dimana pada tahun-tahun sebelumnya masih didominasi oleh ekspor migas. Pergeseran ini terjadi setelah pemerintah mengeluarkan serangkaian kebijakan dan deregulasi di bidang ekspor, sehingga memungkinkan produsen untuk meningkatkan ekspor non migas. Banyak manfaat yang diperoleh Indonesia dari kegiatan ekspor impor dimana masyarakat dan perekonomian Negara menjadi lebih stabil.

Banyak cara untuk melakukan kegiatan eskpor impor dengan Negara lain yang membuat produsen tidak pusing memikirkan bagaimana mengekspor barang atau mengimpor barang dari dan keluar negeri. Banyak faktor pendorong untuk melakukan kegiatan ekspor impor sehingga kegiatan ini akan terus berjalan dikemudian hari.

5.2 SARAN

Apabila Indonesia ingin mendapat sisi positif dalam perdagangan Indonesia maka Indonesia harus mampu melakukan kegiatan ekspor yang lebih banyak dibandingkan dengan kegiatan impor.

Banyaknya masalah yang terjadi dengan adanya kegiatan ekspor impor ini sehingga pemerintah dituntut untuk melakukan kebijakan yang benar dan tepat sasaran. Seharusya pemerintah membuat keringan peraturan bagi barang – barang ekspor dan impor agar kegiatan tersebut lancar.

DAFTAR PUSTAKA

NN, 2009.Makalah Ekspor Impor

Indonesia.http://cafeekonomi.blogspot.com/2009/05/makalah-ekspor-impor-indonesia.html/ diunduh 30 September 2013.

Menman, 2013.Analisis Data Ekspor Impor Indonesia 2013.http://nasionalis.me/tag/analisis-data-ekspor-impor-indonesia-2013/ diunduh 10 Oktober 2013.

Wikipedia, 2013. Ekspor. http://id.wikipedia.org/wiki/Ekspor diunduh 2 November 2013.

(Visited 67 times, 1 visits today)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *