Makalah Penyimpangan Perilaku Warga Negara Terhadap Nilai Pancasila, Pengertian Dari Pancasila dan Untuk Mengetahui Nilai-nilai Dari Setiap Sila Pancasila Type file : Docx / Pdf
Code file : [ har07mdr6 ]

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

            Kenyataan hidup berbangsa dan bernegara bagi kita bangsa Indonesia tidak dapat dilepaspisahkan dari sejarah masa lampau. Demikian halnya dengan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, termasuk di dalamnya Pancasila sebagai dasar negaranya. Sejarah masa lalu dengan masa kini dan masa mendatang merupakan suatu rangkaian waktu yang berlanjut dan berkesinambungan. Dalam perjalanan sejarah eksistensi Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara Republik Indonesia mengalami berbagai macam interpretasi dan manipulasi politik sesuai dengan kepentingan penguasa demi kokoh dan tegaknya kekuasaan yang berlindung di balik legitimasi ideologi negara Pancasila. Kemudian diperdebatkan kembali kebenaran dan ketepatannya sebagai Dasar dan Filsafat Negara Republik Indonesia. Bagi bangsa Indonesia tidak ada keraguan sedikitpun mengenai kebenaran dan ketepatan Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara.

            Pancasila sebagai dasar Negara bangsa Indonesia hingga sekarang telah mengalami perjalanan waktu yang tidak sebentar, dalam rentang waktu tersebut banyak hal atau peristiwa yang terjadi menemani perjalanan Pancasila tentang dasar Negara supaya kedepan kita tetap seperti semboyan kita yaitu “Bhineka Tunggal Ika”. Kemudian Pancasila sebagai dasar filsafat serta ideologi bangsa dan Negara Indonesia, bukan terbentuk secara mendadak serta bukan hanya diciptakan oleh seseorang sebagaimana yang terjadi pada ideologi-ideologi lain di dunia namun terbentuknya Pancasila melalui proses yang cukup panjang dalam sejarah bangsa Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, adapaun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Apa itu Pancasila?
  2. Apa saja nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila?
  3. Bagaimana penjabaran pembunuhan dengan penyimpangan terhadap nilai Pancasila?

1.3 Tujuan Penulisan

Dari rumusan makalah di atas, maka dapat diambil tujuan sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui pengertian dari Pancasila.
  2. Untuk mengetahui nilai-nilai dari setiap sila Pancasila
  3. Untuk mengetahui salah satu contoh nyata penyimpangan warga negara terhadap Pancasila dengan bahasan pembunuhan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pancasila

Pancasila, yang berarti lima dasar atau lima asas, adalah nama dasar Negara Republik Indonesia. Istilah Pancasila telah dikenal sejak zaman Majapahit pada abad XIV,yaituterdapat dalam buku Nagarakertagama karangan Prapanca dan buku Sutasoma karangan Tantular. Dalam buku Sutasoma istilah Pancasila di sampingmempunyai arti berbatu sendi yang kelima (dari bahasa Sansekerta, juga mempunyai arti pelaksanaan kesusilaan yang lima (Pancasila Krama).

Pancasila secara etimologis, Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari kata Panca dan Syila, Panca artinya lima dan Syila artinya alas atau dasar. Jadi Pancasila artinya lima dasar (aturan) yang harus ditaati dan dilaksanakan. Didalam agama Budha juga terdapat istilah Pancasila yang ditulis dalam bahasa Pali yaitu “Pancha Sila” yang artinya lima larangan atau lima pantangan sebagai berikut :

  1. Tidak boleh melakukan kekerasan.
  2. Tidak boleh melakukan kekerasan.
  3. Tidak boleh mencuri.
  4. Tidak boleh berjiwa dengki.
  5. Tidak boleh berbohong.
  6. Tidak boleh mabuk minuman keras atau obat-obatan terlarang.

Pengertian Pancasila secara terminologis, istilah Pancasila dipergunakan oleh Ir.Soekarno yang dicetuskan dalam pidatonya didepan sidang BPUPKI (Dokuritsu Ziumbi Tyoosakai) pada tanggal 1 Juni 1945. Pancasila adalah dasar Negara Indonesia yang merupakan identitas Negara Indonesia dan tidak dimiliki oleh negara lain.

Pengertian Pancasila secara Historis, proses perumusan Pancasila diawali ketika dalam sidang BPUPKI pertama dr. Radjiman Widyodiningrat, mengajukan suatu masalah, khususnya akan dibahas pada sidang tersebut. Masalah tersebut adalah tentang suatu calon rumusan dasar negara Indonesia yang akan dibentuk. Kemudian tampilah pada sidang tersebut tiga orang pembicara yaitu Mohammad Yamin, Soepomo dan Soekarno.Pada tanggal 1 Juni 1945 di dalam siding tersebut Ir. Soekarno berpidato secara lisan (tanpa teks) mengenai calon rumusan dasar negara Indonesia. Kemudian untuk memberikan nama “Pancasila” yang artinya lima dasar, hal ini menurut Soekarno atas saran dari salah seorang temannya yaitu seorang ahli bahasa yang tidak disebutkan namanya.Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, kemudian keesokan harinya tanggal 18 Agustus 1945 disahkannya Undang-Undang Dasar 1945 termasuk Pembukaan UUD 1945 di mana didalamnya termuat isi rumusan lima prinsip atau lima prinsip sebagai satu dasar negara yang diberi nama Pancasila.
Sejak saat itulah perkataan Pancasila menjadi bahasa Indonesia dan merupakan istilah umum. Walaupun dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945 tidak termuat istilah “Pancasila”, namun yang dimaksudkan Dasar Negara Republik Indonesia adalah disebut dengan istilah “Pancasila”. Hal ini didasarkan atas interpretasi historis terutama dalam rangka pembentukan calon rumusan dasar negara, yang secara spontan diterima oleh peserta sidang secara bulat.

2.2 Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Sila Pancasila

            Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara mengandung nilai-nilai yang dijadikan pedoman bagi bangsa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai tersebut terdapat dalam sila-sila yang ada dalam Pancasila.

Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa.

            Sila pertama, yakni “Ketuhanan yang Maha Esa” mengandung pengertian bahwa bangsa Indonesia mempunyai kebebasan untuk meng anut agama dan menjalankan ibadah yang sesuai dengan ajaran agamanya. Sila pertama ini juga mengajak manusia Indonesia untuk mewujudkan kehidupan yang selaras, serasi, dan seimbang antarsesama manusia Indonesia, antarbangsa, maupun dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya. Dengan demikian, di dalam jiwa bangsa Indonesia akan timbul rasa saling menyayangi, saling menghargai, dan saling mengayomi.

Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam sila pertama antara lain sebagai berikut.

  1. Keyakinan terhadap adanya Tuhan yang Maha Esa dengan sifat-sifatnya yang Mahasempurna.
  2. Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dengan cara menjalankan semua perintah-Nya, dan sekaligus menjauhi segala larangan-Nya.
  3. Saling menghormati dan toleransi antara pemeluk agama yang berbeda-beda.
  4. Kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.

Sila kedua: Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

            Sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab” mengandung pengertian bahwa bangsa Indonesia diakui dan diper-lakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya selaku makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang sama derajatnya, sama hak dan kewajibannya, tanpa membeda-bedakan agama, suku ras, dan keturunan.

Dengan demikian, pada sila “Kemanusiaan yang adil dan beradab” terkandung nilai-nilai sebagai berikut.

  1. Pengakuan terhadap adanya harkat dan martabat manusia.
  2. Pengakuan terhadap keberadaan manusia sebagai makhluk yang paling mulia diciptakan Tuhan.
  3. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan harus mendapat perlakuan yang adil terhadap sesama manusia.
  4. Mengembangkan sikap tenggang rasa agar tidak berbuat semena-mena terhadap orang lain.

Sila Ketiga: Persatuan Indonesia

Makna “Persatuan Indonesia” dalam sila ketiga Pancasila adalah suatu wujud kebulatan yang utuh dari berbagai aspek kehidupan, yang meliputi ideologi, politik, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan yang semuanya terwujud dalam suatu wadah, yaitu Indonesia.

Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam sila ketiga, antara lain sebagai berikut.

  1. Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  2. Memiliki rasa cinta tanah air dan bangsa serta rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
  3. Pengakuan terhadap keragaman suku bangsa dan budaya bangsa dan sekaligus mendorong ke arah pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa.

Sila Keempat : Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

            Setiap orang Indonesia sebagai warga masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia mempunyai hak, kewajiban, dan kedudukan yang sama dalam pemerintahan. Oleh karena itu, setiap kegiatan peng ambilan keputusan yang menyangkut kepentingan bersama terlebih dahulu selalu mengadakan musyawarah untuk mencapai mufakat. Musyawarah untuk mencapai mufakat tersebut dilakukan dengan semangat kekeluargaansebagai ciri khas kepribadian bangsa Indonesia.

Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam sila keempat, antara lain sebagai berikut.

  1. Kedaulatan negara ada di tangan rakyat.
  2. Manusia Indonesia sebagai warga masyarakat dan warga negara mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
  3. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
  4. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat daripada kepentingan pribadi atau golongan.
  5. Mengutamakan musyawarah dalam setiap pengambil keputusan.

Sila Kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

            Keadilan merupakan salah satu tujuan negara republik Indonesia selaku negara hukum. Penegakan keadilan akan membuat kehidupan manusia Indonesia, baik selaku pribadi, selaku anggota masyarakat, maupun selaku warga negara menjadi aman, tenteram, dan sejahtera.

            Upaya untuk mencapai ke arah itu memerlukan nilai keselarasan, keserasian, dan keseimbangan, yang menyangkut hak dan kewajiban yang dimiliki oleh seluruh warga negara Indonesia tanpa membedakan agama, suku, bahasa, dan status sosial ekonominya. Setiap warga negara Indonesia harus diperlakukan adil sesuai dengan hak dan kewajibannya sebagai warga negara.

Adapun nilai-nilai yang tercermin dalam sila kelima, antara lain sebagai  berikut.

  1. Mewujudkan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, terutama meliputi bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, dan pertahanan keamanan nasional.
  2. Keseimbangan antara hak dan kewajiban serta menghormati hak-hak orang lain.
  3. Bersikap adil dan suka memberi pertolongan kepada orang lain.
  4. Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang terpuji yang senantiasa mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong-royongan.
  5. Cinta akan kemajuan dan pembangunan bangsa, baik material maupun spiritual.

2.3 Pembunuhan dan Penyimpangannya Terhadap Pancasila

A. Pengertian Pembunuhan

            Pembunuhan adalah suatu tindakan untuk menghilangkan nyawa seseorang dengan cara yang melanggar hukum, maupun yang tidak melawan hukum.

Pembunuhan biasanya dilatarbelakangi oleh bermacam-macam motif, misalnya politik, kecemburuan, dendam, membela diri, dan sebagainya.

Pembunuhan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Yang paling umum adalah dengan menggunakan senjata api atau senjata tajam. Pembunuhan dapat juga dapat dilakukan dengan menggunakan bahan peledak, seperti bom.

B. Macam-Macam Pembunuhan

1. Membunuh dengan sengaja. Membunuh dengan sengaja adalah pembunuhan yang telah direncanakan dengan memakai alat yang biasanya mematikan. Dikatakan seseorang membunuh dengan sengaja apabila pembunuh tersebut :

  • Baligh (Dewasa).
  • Mempunyai niat/rencana untuk membunuh.
  • memakai alat yang mematikan.

            Pembunuhan dengan sengaja antara lain dengan membacok korban, menembak dengan senjata api, memukul dengan benda keras, menggilas dengan mobil, mengalirkan listrik ke tubuh korban dan sebagainya.

2. Membunuh seperti disengaja. Membunuh seperti disengaja yaitu pembunuhan yang terjadi sengaja dilakukan oleh seseorang dengan alat yang biasanya tidak mematikan,  perbuatan ini tidak diniatkan untuk membunuh, atau mungkin hanya bermain-bermain atau hanya tujuan menyakiti. Misalnya dengan sengaja memukul orang lain dengan cambuk ringan atau dengan mistar, akan tetapi yang terkena pukul kemudian meninggal. Dan jika yang di bunuh itu adalah janin yang masih dalam kandungan ibunya dengan cara aborsi (pengguguran). Maka masalah ini menjadi penting dibicarakan, karena kasus-kasus aborsi dengan cara medis (meminum obat tertentu atau suntikan) dalam kehidupan masyarakat modern sekarang ini merupakan masalah yang cukup serius.

3. Membunuh tersalah. Membunuh tersalah yaitu pembunuhan karena kesalahan atau keliru semata-mata, tanpa direncanakan dan tanpa maksud sama sekali. misalnya seseorang melempar batu atau menembak burung, akan tetapi terkena orang kemudian meninggal.

C. FAKTOR-FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI PEMBUNUHAN

a. Faktor yang bersumber dari pribadinya

            Hal ini biasanya dapat dilihat dari ciri-ciri kepribadian itu sendiri, misalnya kurang keimanan kepada kepercayaanya dan kurangnya pendidikan dalam keluarga maupun pendidikan formal.

Berdasarkan pengamatan peneliti, timbulnya pembunuhan itu sebagian besar disebabkan dari pergaulan dan kondisi ekonomi yang tidak menentu mengakibatkan emosi sangat cepat meluap.

b. Faktor ekonomi

            Sulitnya mendapatkan pekerjaan di masa sekarang membuat angka pengangguran dan kemiskinan semakin bertambah. Hal ini juga melatarbelakangi tindak pembunuhan dengan tujuan mendapatkan harta sang korban untuk mencukupi kebutuhan hidup.

c. Faktor lingkungan

            Sebagaimana kita tahu, karakter seseoran dibentuk melalui lingkungannya.  Menurut Soedjono bahwa corak-corak keluarga yang dapat menghasilkan tindak kriminalitas adalah sebagai berikut:

1) Anggota-anggota lainnya, karena penjudi, pemabuk, penjahat, dan sebagainya.

2) Tidak ada salah satu dari orangtuanya karena meninggal, perceraian, atau melarikan diri dari tanggungjawab.

3) Kurang perhatiannya dari orangtuanya, karena masa bodoh, cacat indera, sakit jiwa dan lain-lain.

4) Tidak mampu menguasai diri sendiri, iri hati, cemburu pada anggota keluarga dan banyaknya campur tangan pihak lain.

5) Tekanan ekonomi seperti pengangguran, kurangnya penghasilan dan karena orangtua sibuk bekerja diluar rumah.

Lingkungan pergaulan, sudah kodratnya manusia lahir di dunia mempunyai naluri dan harus hidup berkelompok serta bergaul dengan orang lain, bahkan apabila suatu saat seseorang dipisahkan dari kelompok orang dan hidup sendirian, maka kemungkinan besar orang tersebut akan terganggu keseimbangan jiwanya.

Oleh karena itu sudah merupakan gejala yang wajar apabila manusia mencari teman dari masa kanak-kanak sampai dewasa. Sedangkan dalam pergaulan dengan kawan-kawan yang kurang baik dan terlalu bebas tanpa adanya pengawasan dari orang tua, maka akan membentuk suatu watak kepribadian yang kurang baik.

D. PEMBUNUHAN DAN PENYIMPANGAN TERHADAP PANCASILA

a. Penyimpangan terhadap sila pertama.

            Ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pancipta alam semesta. Nilai ketuhanan juga memilik arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama, menghormati kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antarumat beragama. Setiap agama mengajarkan untuk saling mengasihi antar sesama dan saling tolong menolong, bukan tugas manusia untuk mencabut nyawa manusia, jelas pembunuhan melanggar nilai sila pertama.

b. Penyimpangan terhadap sila kedua.

            Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya. Dalam hal ini sang pembunuh telah menyalahi sila kedua dengan tidak menghargai hak-hak yang dimiliki oleh korban.

c. Penyimpangan terhadap sila kelima.

            Pembunuhan bukan saja mengakibatkan hilangnya nyawa dan perselisihan yang berakibat pada permusuhan, namun juga berpengaruh terhadap orang lain misalnya korban adalah tulang punggung keluarga, maka keluarga itu akan memutar otak untuk mencari penghasilan, putus sekolah dan kemiskinan semakin bertambah.

E. CARA MENGURANGI TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN

  1. Penanaman nilai-nilai pancasila dilakukan sejak dini.
  2. Menghargai hak asasi manusia.
  3. Menjunjung tinggi persamaan derajat manusia.
  4. Memberi hukuman bersifat jera untuk orang yang membunuh.
  5. Mengajak / menyadarkan orang agar mau lebih dekat dengan Tuhan.
  6. Membuka lapangan pekerjaan bagi wirausahawan.
  7. Pengembangan karakter dan pendidikan nonformal di lembaga permasyarakatan.
  8. Mengikuti kegiatan yang positif (futsal, pemuda-pemudi).
  9. Mempunyai iman yang kuat. Sehingga mudah mendekatkan diri kepada tuhan yang maha esa dikala sedang kesal dengan seseorang.
  10. Mempunyai ilmu pendidikan yang tinggi dan mengetahui bahawa membunuh itu dosa dan merupakan suatu hal yang melanggar norma.
  11. Mempunyai rasa kasih sayang sesama manusia.
  12. Jangan mudah marah dan jangan mudah menyimpan benci terhadap orang lain.
  13. Jangan egois dan jangan mempunyai sifat yang tertutup terhadap orang lain.
  14. Berusahalan untuk memaafkan kesalahan orang lain yang disengaja maupun tidak disengaja.
  15. Mudahlah bersosialisasi terhadap orang lain.
  16. Selau berfikir positif.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

            Pancasila merupakan warisan leluhur dari para pendiri bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam setiap silanya merupakan hasil dari budaya bangsa Indonesia sendiri. Pancasila berfungsi sebagai ideologi dan pandangan hidup bangsa, namun masih banyak perilaku menyimpang terhadap Pancasila seperti pembunuhan yang dilatarbelakangi dari faktor pribadi, ekonomi dan lingkungan.

                                    Beberapa hal yang dapat dilakukan  guna mengatasi perilaku menyimpang tersebut yakni penanaman nilai-nilai pancasila dilakukan sejak dini melalui pandidikan dalam keluarga, digalakkannya program pendidikan pancasila tidak hanya pada perguruan tinggi saja, mulai dari pendidikan dasar agar nilai-nilai luhur pancasila dapat tertanam kuat di jiwa generasi muda sebagai penerus bangsa.

3.2 Saran

            Kita harusmenerapkansila-sila Pancasiladalamkehidupansehari-hari agar kitadapatmembentukdirikitamenjadipribadi yang benar. Untuk mengurangi penyimpangan terhadap Pancasila bukan hanya tugas pemerintah, namun juga semua anggota masyarakat dengan saling peduli terhadap satu sama lain.

DAFTAR PUSTAKA

  • http://artikelpengertianmakalah.blogspot.co.id/2015/05/nilai-nilai-yang-terkandung-dalam-sila.html
  • http://s-hukum.blogspot.co.id/2015/03/faktor-faktor-terjadinya-pembunuhan.html
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Pembunuhan
  • https://rizalprasetyo3.wordpress.com/
  • http://kumpulanmakalahsosiologi.blogspot.co.id/2014/05/tindakan-kriminalitas-pembunuhan-di_20.html
(Visited 11 times, 1 visits today)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *