Makalah Akuntansi Transaksi Salam dan Salam Paralel, Definisi dan Ketentuan Syar’i Transaksi Rukun Salam dan Salam Paralel Type file : Docx / Pdf
Code file : [ har17mdr16 ]

AKUNTANSI TRANSAKSI SALAM DAN SALAM PARALEL

A. Definisi dan Penggunaan Transaksi Salam dan Salam paralel

  1. Bai’ as salam atau biasa disebut dengan salam, merupakan pembelian barang yang pembayarannya dilunasi di muka sedangkan penyerahan barang dilakukan di kemudian hari.
  2. Akad salam ini digunakan untuk memfasilitasi pembelian suatu barang (biasanya barang hasil pertanian) yang memerlukan waktu untuk memproduksinya.
  3. Salam paralel merupakan jual beli barang yang melibatkan dua transaksi salam, dalam hal ini transaksi salam pertama dilakukan dilakukan antara nasabah dengan bank, sedang transaksi salam kedua dilakukan antara bank dengan petani atau pemasok.

B. Ketentuan Syar’i, Rukun Transaksi dan Pengawasan Syariah Transaksi Salam dan Salam parallel

  1. Ketentuan Syar’i Transaksi Salam dan Salam Paralel

Landasan syar’i dibolehkannya transaksi salam adalah sebagaimanadisebutkan dalam hadis Nabi SAW riwayat Ibnu Abbas berikut:

“Barang siapa yang melakukan salaf (salam) hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula, untuk jangka waktu yang diketahui.”

Ketentuan syar’i transaksi salam diatur dalam fatwa DSN no 05/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Salam. Fatwa tersebut mengatur tentang ketentuan pembayaran, barang, salam paralel, waktu penyerahan dan syarat pembatalan kontrak.

2. Rukun Transaksi Salam

Rukun-rukun salam meliputi:

  1. transaktor yakni pembeli (muslam) dan penjual (muslam ilaih);
  2. Transaktor terdiri atas pembeli (muslam) dalam hal ini nasabah dan penjual (muslam ilaih) dalam hal ini bank syariah.
  3. Kedua transakstor disyaratkan memiliki kompetensi berupa akil baligh dan kemampuan memilih yang optimal seperti tidak gila, tidak sedang dipaksa dan lain yang sejenis. Adapun untuk transaksi dengan anak kecil, dapat dilakukan dengan izin dan pantauan dari walinya.
  4. Terkait dengan penjual, fatwa DSN no 05/DSN-MUI/IV/2000 mengharuskan agar penjual menyerahkan barang tepat pada waktunya dengan kualitas dan jumlah yang telah disepakati.
  5. Penjual diperbolehkan menyerahkan barang lebih cepat dari waktu yang disepakati dengan syarat kualitas dan jumlah barang sesuai dengan kesepakatan dan ia tidak boleh menuntut tambahan harga.
  6. objek akad salam berupa barang dan harga yang diperjualbelikan dalam transaksi salam.

DSN dalam fatwanya menyatakan bahwa ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi oleh barang yang diperjualbelikan dalam transaksi salam. Ketentuan tersebut antara lain:

  • harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai utang
  • harus dapat dijelaskan spesifikasinya
  • penyerahannya dilakukan kemudian
  • waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan
  • pembeli tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.
  • Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan
  • ijab dan kabul yang menunjukkan pernyataan kehendak jual beli secara salam, baik berupa ucapan atau perbuatan.

3. Rukun Transaksi Salam Paralel

            Berdasarkan fatwa DSN no 5 tahun 2000, disebutkan bahwa akad salam kedua (antara bank sebagai pembeli dengan petani sebagai penjual) harus dilakukan terpisah dari akad pertama. Adapun akad kedua baru dilakukan setelah akad pertama sah.  Rukun-rukun yang terdapat pada akad salam pertama juga berlaku pada akad salam kedua.

Pengawasan Syariah Transaksi Salam dan Salam paralel

  1. memastikan barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syariah Islam;
  2. memastikan bahwa pembayaran atas barang salam kepada pemasok telah dilakukan diawal kontrak secara tunai sebesar akad salam;
  3. meneliti bahwa akad salam telah sesuai dengan fatwa DSN-MUI tentang salam dan peraturan Bank Indonesia yang berlaku;
  4. meneliti kejelasan akad salam yang dilakukan dalam format salam paralel atau akad salam biasa;
  5. meneliti bahwa keuntungan bank syariah atas praktik salam paralel diperoleh dari selisih antara harga beli dari pemasok dengan harga jual kepada nasabah/pembeli akhir.

STANDAR AKUNTANSI SALAM

Pengukuran, pengakuan ,penyajian pengungkapan transaksi salam yang sebelumnya diatur dalam PSAK 59 tentang Akuntansi Perbankan syariah diganti dengan PSAK 103 tentang akuntansi salam.

Dalam transaksi salam bank syariah dapat bertindak sebagai pemesan dan juga bertindak sebagai produsen tetapi umumnya yang dilaksanakan bank syariah adalah salam pararel yaitu transaksi salam yang diterima oleh bank syariah ( bank syariah sebagai produsen) secara simultan diserahkan kepada pihak lain untuk memproduksinya (bank syariah sebagai pemesan)

Dalam Transaksi salam bank syariah dapat bertindak sebagai pemesan dan juga sebagai produsen

  1. bank Sebagai Pembeli (akuntansi untuk pembeli)
  2. piutang salam diakui pada saat modal usaha salam dibayarkan atau dialihkan kepada penjual
  3. modal usaha salam dapat berupa kas dan asset non kas
  4. penerimaan barang pesanan diakui dan diukur sebagai berikut :
  5. JIka barang pesanan sesuai dengan akad dinilai seseuai nilai yang disepakati
  6. Jika barang pesanan berbeda kualitasnya, maka :
  7. Barang pesanan yang diterima diukur sesuai dengan nilai akadm jika nilai wajar dari barang pesanan  yang diterima nilainya sama atau lebih tinggi dari nilai barang pesanan yang tercantum dalam akad.
  8. Barang pesanan yang diterima diukur sesuai nilai wajar pada saat diterima dan selisihnya diakui sebagai kerugian, jika nilai wajar dari barang pesanan yang diterima lebih rendah dari nilai barang yang tercantum dalam akad
  9. Jika pembeli tidak menerima sebagian atau seluruh barang pesanan pada tanggal jatuh tempo pengiriman maka :
  10. Jika tanggal pengiriman diperpanjang, nilai tercatat piutang salam sebesar bagian yang belum dipenuhi sesuai dengan nilai yang tercantum dalam akad
  11. Jika akad salam dibatalkan sebagian atau seluruhnya maka piutang salam berubah menjadi oiutang yang harus dilunasi oleh nasabah sebesar bagian yang tidak dapat dipenuhi dan
  12. Jika akad salam  dibatalkan sebagian atau seluruhnya dan pembeli mempunyai jaminan atas barang pesanan serta hasil penjualan jaminan tersebut lebih kecil dari nilai piutang salam maka selisih antara  nilai tercatat piutang salam dan hasil penjualan jaminan tersebut diakui sebagai piutang kepada nasabah yang telah jatuh tempo
  13. Bank sebagai Penjual (Akuntansi untuk penjual)
  14. Kewajiban salam diakui pada saat penjual menerima modal usaha salam sebesar modal usaha salam yang diterima
  15. Modal usaha salam yang diterima dapat  berupa kas dan asste non kas
  16. Kewajiban salam dihentikan pengakuannya pada saar penyerahan barang kepada pembeli
  17. Penyajian
  18. Pembeli menyajikan modal usaha salam yang diberikan sebagai piutang salam
  19. ‘piutang yang harus dilunai oleh penjual karena tidak dapat memenuhi kewajibannya dalam transkaksi salam disajikan secara terpisah dari piutang salam
  20. Penjual menyajikan modal usaha salam yang diterima sebagai kewajiban salam
  21. Pengungkapan
  22. Penjual dalam transaksi salam mengungkapkan :
  23. Piutang salam kepada supplier yang memiliki hubungan istimewa
  24. Jenis dan kuantitas barang pesanan dan
  25. Pengungkapan lain sesuai dengan PSAK 101 : penyajian laporan keuangan syariah
  26. Pembeli dalam transaksi salam mengungkapkan:
  27. Besarnya modal usaha salam, bak yang dibiayai sendiri maupun yang dibiayai secara bersama-sama dengan pihak lain
  28. Jenis dan kuantitas barang pesanan dan
  29. Pengungkapan lain sesuai dengan PSAK 1010 : Penyajian lapora keuangan syariah.

PERLAKUAN AKUNTANSI – BANK SYARIAH SEBAGAI PENJUAL

Dalam transaksi salam bank syariah dapat bertindak sebagai penjual dan dapat bertindak sebagai pembeli. Untuk mengetahui bank syariah sebagai penjual atau pembeli dapat dilihat dalam gambar berikut :

Penerimaan Modal salam (bank sebagai penjual)

Atas penerimaan modal salam dalam PSAK 103 tantang akuntansi salam mengatur sebagai berikut:

  • Kewajiban salam diakui pada saat penjual menerima modal usaha salam sebesar modal usaha salam yang diterima.
  • Modal salam yang diterima dapat berupa kas dan asset non kas. Modal usaha salam dalam bentuk kas diukur sebesar jumlah yang diterima, sedangkan modal salam bentuk non kas diukur sebagai nilai wajar (nilai yang disepakati antara bank dan nasabah.

Perlakuan Akuntansi –  bank syariah sebagai pembeli

Dalam gambar skema salam dapat dilihat bahwa bank bertindak sebagai pembeli [ada saat bertindak sebagai pemesan, sebagai pihak yang memiliki modal salam.

Perlakuan Akuntansi Penyerahan Modal Salam

Dalam PSAK 103 tentang akuntansi salam dijelaksan perlakuan akuntansi tentang modal salam sbb :

  • Piutang salam diakui pada saat modal usaha salam dibayarkan atau dialihkan kepada penjual
  • Modal usaha salam dapat berupa kas dan asset non kas. Modal usaha salam dalam bentuk kas diukur sebesar jumlah yang dibayarkan sedangkan modal usaha salam dalam bentuk asset non kas diukur sebesar nilai wajar. Selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat modal usaha non kas yang diserahkan diakui sebagai keuntungan atau kerugian pada saat penyerahan modal usaha tersebut.

Perlakuan Akuntansi Penerimaan barang pesanan (menyusul besok pagi)

Kasus 1

Transaksi Salam Pertama

PT. Thariq Agro Mandiri , membutuhkan 100 ton biji jagung hibryda untuk keperluan ekspor 6 bulan yang akan datang. Pada tanggal 1 Juni 20XA, PT. Thariq Agro Mandiri melakukan pembelian jagung dengan skema salam kepada Bank Syariah Sejahtera. Adapun informasi tentang pembelian tersebut adalah sebagai berikut:

Spesifikasi barang      : Biji jagung manis hybrida kualitas no 2

Kuantitas                      : 100 ton

Harga                          : Rp 700.000.000 ( Rp 7.000.000 per ton)

Waktu penyerahan    : dua tahap setiap tiga bulan sebanyak 50 ton (2 September dan 2 Desember 20XA)

Syarat pembayaran   : dilunasi pada saat akad ditandatangani

 Transaksi Salam Kedua

Untuk pengadaan produk salam sebagaimana diinginkan oleh PT. Thariq Agro Mandiri, bank syariah selanjutnya pada tanggal 2 Juni 20XA mengadakan transaksi salam dengan petani yang bergabung dalam KUD. Tunas Mulia dengan kesepakatan sebagai berikut:

Spesifikasi barang                : Biji jagung manis hybrida kualitas kualitas no 2

Kuantitas                                : 100 ton

Harga                                      : Rp 650.000.000 (Rp 6.500.000 per ton)

Penyerahan modal              : uang tunai sejumlah Rp 650.000.000

Waktu penyerahan barang    :dua tahap setiap tiga bulan sebanyak 50 ton (1 September dan 1 Desember 20XA)

Agunan                                   : Tanah dan kendaraan senilai Rp 700.000.000

Syarat pembayaran             : dilunasi pada saat akad ditandatangani

Denda kegagalan penyerahan karena kelalaian atau kesengajaan: 2% dari nilai produk yang belum diserahkan.

Penjurnalan Transaksi Salam

a. Penerimaan dana dari nasabah pembeli

            Pada saat akad disepakati, pembeli disyaratkan untuk sudah membayar produk salam secara lunas. Berdasarkan PSAK no 103 paragraf 17 disebutkan bahwa kewajiban salam diakui pada saat penjual menerima modal usaha sebesar modal usaha salam yang diterima.

            Berdasarkan kasus 10.1, pada saat bank syariah melakukan akad salam dengan PT. Thariq Agro Mandiri (PT. TAM) dan menerima dana salam, maka jurnal transaksi tersebut adalah sebagai berikut:

Tanggal Rekening Debit
(Rp)
Kredit (Rp)
5/6/XA Db. Kas/rekening nasabah pembeli – PT. TAM 700.000.000
Kr. Hutang salam 700.000.000

b. Penyerahan modal salam dari bank syariah kepada pemasok atau petani

            Berdasarkan PSAK no 103 paragraf 11 disebutkan bahwa piutang salam diakui pada saat modal usaha salam dibayarkan atau dialihkan kepada penjual. Modal usaha salam dalam bentuk kas diukur sebesar jumlah yang dibayarkan (PSAK no 103 paragraf 12).

            Misalkan pada tanggal 1 Juni, bank syariah menyerahkan modal berupa uang tunai sebesar Rp 650.000.000,- ke rekening KUD di bank maka jurnal saat penyerahan modal salam oleh bank syariah kepada KUD adalah sebagai berikut:

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
6/6/XA Db. Piutang salam 650.000.000
Kr. Kas/rekening nasabah penjual – KUD TM 650.000.000

c. Penerimaan barang pesanan dari pemasok atau petani

Berdasarkan PSAK no 103 paragraf 16 disebutkan bahwa barang pesanan yang diterima diakui sebagai persediaan. Adapun waktu penerimaan produk salam dari pemasok atau petani, dilakukan sesuai dengan tanggal kesepakatan.

            Pada saat penerimaan produk salam, sangat mungkin terjadi perbedaan antara kualitas dan nilai wajar barang dengan kualitas dan nilai kontrak. Perbedaan tersebut antara lain berupa;

  • Kualitas barang dan nilai wajar barang, sama dengan nilai kontrak;
  • Kualitas barang lebih rendah dan nilai wajar barang lebih rendah dari nilai kontrak;
  • Kualitas barang dan nilai wajar barang, lebih tinggi dari nilai kontrak;

Berdasarkan PSAK no 103 paragraf 13a, disebutkan bahwa jika barang pesanan sesuai dengan akad, maka dinilai sesuai dengan nilai yang disepakati.

            Misalkan pada tanggal 1 September 20XA dan 1 Desember 20XA, KUD TM menyerahkan masing-masing 50 ton biji jagung manis hybrida kualitas no 2 sebagaimana yang disepakati dalam perjanjian salam. Adapun nilai wajar produk tersebut pada saat penyerahan sama dengan nilai kontrak yaitu Rp 325.000.000 (50 ton x Rp 6.500.000 per ton). Jurnal untuk saat penyerahan produk salam dari KUD ke bank syariah adalah sebagai berikut:

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
1/9/XA Db. Persediaan produk salam 325.000.000
       Kr. Piutang salam 325.000.000
Ket: Penyerahan tahap pertama sebanyak 50 ton biji jagung kualitas 2 dengan kualitas barang dan nilai wajar barang sama dengan nilai kontrak.
1/12/XA Db. Persediaan produk salam 325.000.000
       Kr. Piutang salam 325.000.000
Ket: Penyerahan tahap kedua sebanyak 50 ton biji jagung kualitas 2 dengan kualitas barang dan nilai wajar barang sama dengan nilai kontrak.

PERLAKUAN AKUNTANSI SALAM PARAREL

Bank dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam suatu transaksi salam. Jika bank bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan dengan cara salam maka hal ini disebut salam pararel. Salam pararel dapat dilakukan dengan syarat :

  • Akad kedua antara bank dan pembuat terpisah dari akad pertama antara bank dan pembeli akhir
  • Akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah.

Untuk memberikan yang lengkap terhadap transaksi salam pararel dapat dilihat dalam gabar sebagai berikut

untuk contoh akuntansi salam pararel menyusul besok pagi

10.6. Penyajian

            Berdasarkan PSAK no 103 paragraf 20 s/d 22, penyajian rekening yang terkait transaksi salam dan salam paralel antara lain:

  1. Piutang salam, yang timbul karena pemberian modal usaha salam oleh bank syariah.
  2. Piutang, yang timbul karena penjual tidak dapat memenuhi kewajibannya dalam transaksi salam. Rekening ini disajikan terpisah dari piutang salam.
  3. Hutang salam, timbul karena bank menjadi penjual produk salam yang dipesan oleh nasabah pembeli.

10.7 Pengungkapan

            Hal-hal yang harus diungkap dalam catatan atas laporan keuangan tentang transaksi salam dan salam paralel antara lain:

  1. Rincian piutang salam (kepada pemasok) dan hutang salam (kepada pembeli) berdasarkan jumlah, jangka waktu, jenis valuta, kualitas piutang dan penyisihan kerugian piutang salam.
  2. Piutang salam dan hutang salam yang memiliki hubungan istimewa
  3. Besarnya modal usaha salam, baik yang dibiayai sendiri oleh bank maupun yang dibiayai secara bersama-sama dengan bank atau pihak lain
  4. Jenis dan kuantitas barang pesanan.
(Visited 19 times, 1 visits today)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *